Postingan

Puisi: Nyata-Nyata (Karya Darwanto)

Nyata-Nyata Nyata-nyata kita tak berhak berbicara perkataan lagi soalnya, kata yang mengalir dari lidah nyatanya akan bermuara ke telinga lidah kita …

Puisi: Dalam Repetisi (Karya Darwanto)

Dalam Repetisi Harus menjadi kutu untuk makan isi kertas buku Harus menjadi ulat bulu untuk meretas kepompong kupu-kupu Harus menjadi rambu-rambu unt…

Puisi: Sajak Orang Jatuh Cinta (Karya Darwanto)

Sajak Orang Jatuh Cinta Kau berpikir, kau air, yang mengalir, ke lautan cinta kau merenung, kau burung yang terkurung, dalam sangkar cinta kau terbay…

Puisi: Rindu (Karya Darwanto)

Rindu Inikah sebuah rindu? sebuah jalan setapak di lereng yang mendaki yang berliku yang sangat terjal dan berbatu yang mesti harus ditempuh menyusur…

Puisi: Kau Sebut Hatimu (Karya Darwanto)

Kau Sebut Hatimu Kau sebut hatimu kain putih yang bersih yang rapi tertata dan bukanya debu-debu yang terbang bersamaan polusi udara Kau sebut hatimu…

Puisi: Anak Kecil (Karya Darwanto)

Anak Kecil Pagi-pagi sekali burung-burung bernyanyi meloncat dari dahan ke dahan agak sebelah sana seorang anak kecil sedang duduk ingin melihat ke l…

Puisi: Dingin Hujan (Karya Darwanto)

Dingin Hujan Kau tetap akan merasakan dinginya hujan yang di luaran sana meski sudah kau matikan lampu, tutup pintu dan jendela meski sudah kau gunak…

Puisi: Pertapa (Karya Darwanto)

Pertapa Gonggong anjing hutan itu mula-mula mendongak tinggi-tinggi ke awan-awan memecah keheningan malam di udara pekik pekat melengking di tepi hut…

Puisi: Di Musim Kering (Karya M. Taslim Ali)

Di Musim Kering Panas-ganas meretas bumi, Menaring hidup. Tanah ternganga Bernafas haus, bisu mendoa Bagai petani di gurun hati. Segala hijau tertind…
© Sepenuhnya. All rights reserved.