Postingan

Puisi: Awal Tahun 1954 (Karya Kirdjomuljo)

Awal Tahun 1954 Darah dari bulan tétés Darah dad bulan kering Tétés kering Tétés kering Hari itu Awal satu sembilan lima empat belu…

Puisi: Catatan Tahun 1965 (Karya Taufiq Ismail)

Catatan Tahun 1965 Di lapangan dibakari buku Mesin tikmu dibelenggu Piringan hitam dipanggang Buku-buku d…

Puisi: 2 September 1965 (Karya Taufiq Ismail)

2 September 1965, Pagi Cinta pada kebebasan Adalah cinta terlarang Hari ini. 1965 2 September 1965, Senja K…

Puisi: Februari 1965 (Karya Rita Oetoro)

Februari 1965 sepi rasanya sore ini meinandang lewat jendela anak kita baru saja dikebumikan kau tahu — anak kita lelaki dan telah kutuliskan sebuah …

Puisi: 1964 (Karya Hartojo Andangdjaja)

1964 Di manakah akan kuselamatkan kini suaraku yang lembut bernama puisi ketika, seperti Brecht pernah berkata: bicara tentang p…

Puisi: Priangan Si Jelita (Karya Ramadhan K.H.)

Priangan Si Jelita (1) Seruling di pasir ipis, merdu antara gundukan pohon pina, tembang menggema di dua kaki, Burangrang – Tangkubanprahu. Jamrut di…

Puisi: Pembakaran (Karya Ramadhan K.H.)

Pembakaran (1) Pacar! Coklat matamu subur, Coklat darah tanah Cianjur. Tapi pacar! Yang meneteskan air hujan di bawah ali…

Puisi: Oktober 1917 (Karya HR. Bandaharo)

Oktober 1917 Bersama dengan dentuman meriam     dari kapal perang Aurora         nama Lenin ditembakkan ke angkasa; dan seperti bom api     pecah men…

Puisi: Mantra Kematian (Karya Herman RN)

Mantra Kematian O, aku sudah melangkah ke masjid, gereja, pura, dan wihara Tak kudapati sebuah pun kitab yang mendidik saling tusuk dan tembak …
© Sepenuhnya. All rights reserved.