Postingan

Puisi: Pesan dari Ayah (Karya Joko Pinurbo)

Pesan dari Ayah Datang menjelang petang, aku tercengang melihat Ayah sedang berduaan dengan telepon genggam …

Puisi: Jenazah Ayah (Karya Alex R. Nainggolan)

Jenazah Ayah - halasan nainggolan semestinya aku terus mengangkat kerandamu, ayah. sepanjang waktu. tapi maut selalu menunggu dan ta…

Puisi: Malam Natal (Karya Ari Pahala Hutabarat)

Malam Natal - ompung doli seperti mendung, yang tiba-tiba turun ke meja terang ke gegas orang-orang yang mencari teduh dan …

Puisi: Ibu Guru (Karya Karsono H. Saputra)

Ibu Guru tak pernah lelah tak pernah henti berdiri di kelas penuh kasih tak pernah marah, bahkan selalu senyum meski sesekali aku nakal dan malas bel…

Puisi: Rajin Menabung (Karya Andy Sri Wahyudi)

Rajin Menabung (Buat Mohamad Hatta) Ibu menyirami tanaman setiap sore. Aku senang melihatnya. Jari-jarinya bercahaya seperti kemerdekaan yan…

Puisi: Menabung Sunyi (Karya Sulaiman Juned)

Menabung Sunyi Jangan kau rusak garis dalam gambarku. Membelah batu melawan angin menabung sunyi di jiwa sepi. Jangan kau rusak g…

Puisi: Kacamata (Karya Joko Pinurbo)

Kacamata Baru tiga puluh tahun menyair, ia sudah pakai kacamata. Biar tampak bijak dan matang. Biar dikira banyak mikir dan merenung. Biar l…

Puisi: Batuk (Karya Joko Pinurbo)

Batuk Batuk, beri aku letusan-letusan lembutmu untuk menggempur limbah waktu yang membatu di rongga dadaku. 2004 Sumber: Kekasihku (Kepustak…

Puisi: Bumi Hangus (Karya W.S. Rendra)

Bumi Hangus Di bumi yang hangus, hati selalu bertanya apalagi yang kita punya? Berapakah harga cinta? Di bumi yang hangus hati sela…
© Sepenuhnya. All rights reserved.