Postingan

Puisi: Surat (Karya Abdul Wachid B. S.)

Surat Surat yang ditulis dengan hati yang sungai bening mengalir pasti telah membaca muara Si Bayi yang dulu ditimang tak juga datang …

Puisi: Jakarta, di Sebuah Hotel (Karya Juniarso Ridwan)

Jakarta, di Sebuah Hotel hanya tinggal jejak purba, sedangkan pikiran melayang entah ke mana. Pakaian menumpuk di bawah tempat tidur, bunga-bunga maw…

Puisi: Maut (Karya Sam Haidy)

Maut Maut adalah bajak laut Merampas nafas kita Ketika berlayar di samudera kehidupan... Analisis Puis…

Puisi: Pidie (Karya Ahda Imran)

Pidie (buat Cut Fatmah Hassan) Daun-daun menulis di kerudungmu, Inong syair-syair ratusan tahun ketika kat…

Puisi: Bekas Lubang Paku (Karya Afrizal Malna)

Bekas Lubang Paku Aku ingin menemui lagi tubuhmu. Karena puisi tertulis di bahumu. Seperti bekas lubang paku. Tak berjudul. Tak tahu siapa yang m…

Puisi: Degradasi Kegelapan (Karya Juniarso Ridwan)

Degradasi Kegelapan waktu juga yang membuat kita sering lupa baru saja kita bicara tentang segala lalu benda-benda sekeliling lenyap dalam mata hanya…

Puisi: Kudeta (Karya Asep S. Sambodja)

Kudeta ketika daud menjadi raja ia berlaku adil hukum ditegakkan, politik bukan panglima dan ia persiapkan sulaiman, anaknya sebagai putra mahkota ka…

Puisi: Bandar Jakarta (Karya Juniarso Ridwan)

Bandar Jakarta laut adalah wujud misteri wanita berbahaya aku tak pernah tahu tentang jumlah ombak, jumlah ikan dan jumlah pasirnya. Hanya suaranya k…

Puisi: Taubat (Karya Muhammad Yusuf Praja)

Taubat Hati dan jiwa yang gelap tanpa cahaya Diri ini yang begitu hina Sombong angkuh serta biadab yang selalu menetap dalam jiwa Kini diri ini sujud…
© Sepenuhnya. All rights reserved.