Postingan

Puisi: Rambut Curian (Karya Joko Pinurbo)

Rambut Curian Aku beruntung bisa mencuri sehelai rambutmu dan menanamnya di tubuhku sampai tumbuh subur da…

Puisi: Himne Becak (Karya Joko Pinurbo)

Himne Becak Dua puluh tahun yang lalu aku melihatmu sedang melamun di dalam becak yang kauparkir di depan w…

Puisi: Pemulung Kecil (Karya Joko Pinurbo)

Pemulung Kecil Tengah malam pemulung kecil itu datang memungut barang-barang yang berserakan di lantai rumah: onggokan sepi, pecahan bulan, …

Puisi: Penjual Celana (Karya Joko Pinurbo)

Penjual Celana Konon ia seorang veteran, bekas pejuang kemerdekaan, sehari-hari bergiat sebagai pedagang celana di sebuah pasar di dekat kub…

Puisi: Rumah Persinggahan (Karya Joko Pinurbo)

Rumah Persinggahan ( untuk SS ) "Aku sekarang bisa pulang ke rumah," kata temanku dengan wajah be…

Puisi: Loper koran (Karya Joko Pinurbo)

Loper koran Pagi-pagi sekali loper koran itu sudah nongol di depan pintu, menaruh koran di pangkuanku seraya …

Puisi: Sajak Kacamata (Karya Joko Pinurbo)

Sajak Kacamata Saya tahu, jika saatnya tiba, saya akan memakai kacamata. Kacamata yang kacanya terbuat dari kaca kata dan matanya dari mata …

Puisi: Kepada Jengki (Karya Joko Pinurbo)

Kepada Jengki Bulan tertawa bahagia melihat kau berdiri gagah dengan jaket coklatmu. Ombak mulai gelisa…

Puisi: Perias Jenazah (Karya Joko Pinurbo)

Perias Jenazah Untuk terakhir kali perempuan cantik itu akan merias jenazah. Setelah itu selesailah. Ia sangat lelah setelah sekian lama me…
© Sepenuhnya. All rights reserved.