Postingan

Puisi: Dengan Sukarela (Karya Remy Sylado)

Dengan Sukarela Dalam diri kita ada naluri burung ingin bebas dari sangkar terkurung dalam jeruji akal re…

Puisi: Lebih Baik Mati Muda (Karya Remy Sylado)

Lebih Baik Mati Muda Jika usia menua kapan waktu dan aku tak berani menulis puisi dengan jendela yang dibuka…

Puisi: Peluk Sekuat Cintamu (Karya Wiji Thukul)

Peluk Sekuat Cintamu Kehadiran kita nanti akan diterima dunia yang kabur perkawinan kita nanti perayaan kemiskinan besar-besaran. …

Puisi: Jalan Slamet Riyadi Solo (Karya Wiji Thukul)

Jalan Slamet Riyadi Solo dulu kanan dan kiri jalan ini pohon-pohon asam besar melulu saban lebaran dengan teman sekampung jalan berombongan ke taman …

Puisi: Apa yang Berharga dari Puisiku (Karya Wiji Thukul)

Apa yang Berharga dari Puisiku Apa yang berharga dari puisiku Kalau adikku tak berangkat sekolah karena belum membayar SPP Apa ya…

Puisi: Baju Loak Sobek Pundaknya (Karya Wiji Thukul)

Baju Loak Sobek Pundaknya Siang tadi aku beli baju harganya murah harganya murah bojoku di pedagang loak di pedagang loak bojoku p…

Puisi: Nonstop 24 Jam (Karya Wiji Thukul)

Nonstop 24 Jam Nonstop 24 jam yang berkuasa di sini adalah cahaya Saban pagi ia membuat garis-garis lurus di sekitar jendela gambar m…

Puisi: Habis Cemasku (Karya Wiji Thukul)

Habis Cemasku Habis cemasku kau gilas habis takutku kau tindas Kini padaku tinggal tenaga mendidih! Segala telah kau rampas …

Puisi: Di Tingkat Empat (Karya Wiji Thukul)

Di Tingkat Empat di tingkat empat kotaku di bawah itu kelap kelip beribu di tingkat empat kulihat diriku melayang di bawah orang-orang ribut mencibir…
© Sepenuhnya. All rights reserved.