Postingan

Puisi: Orang-Orang dengan Monolog (Karya Avianti Armand)

Orang-Orang dengan Monolog Bayang-bayang itu cuma bercerita pada kita tentang kebohongan. Di pauh yang tak terlalu jauh mereka berkumpul …

Puisi: Yang Berjalan ke Dalam Kelam (Karya Iyut Fitra)

Yang Berjalan ke Dalam Kelam Kelak, bila suaraku tak lagi kau dengar di rabun malam. di jalan-jalan sebelum menempuh kota hanya kan terlihat …

Puisi: Tak Ada yang Menangis Untukmu (Karya A. Munandar)

Tak Ada yang Menangis Untukmu Mungkin wajahnya melambangkan sesuatu yang menyenangkan dan hatinya terbentuk …

Puisi: Solilokui Hamparan Gurun (Karya Agit Yogi Subandi)

Solilokui Hamparan Gurun akulah tubuh yang berdiam di dalam kemarau dan setiap orang hanya melintas kemudian berlalu. hujan hanya sekelumi…

Puisi: Tentang Kita (Karya A. Munandar)

Tentang Kita Betapa buruknya untuk menyadari, bahwa semua yang aku lakukan demimu adalah semua yang tidak akan pernah kau lakukan demiku. Bahkan u…

Puisi: Terhimpit Ragu (Karya A. Munandar)

Terhimpit Ragu         Kau terhempas dari duniaku atau aku yang terbuang dari duniamu?         Kau terkurung di duniamu atau aku y…

Puisi: Berlayar (Karya Agit Yogi Subandi)

Berlayar yang berlayar, hingga kini belum juga sampai ke tepian. bunga-bunga telah gugur dan bersemi kembali untuk yang kesekian…

Puisi: Untuk Apa Lagi Membicarakan Alamat (Karya Iyut Fitra)

Untuk Apa Lagi Membicarakan Alamat Kami berdiri di sini telah lama jiwa-jiwa yang goyah. Bumi rapuh tak ada detik atau menit yang tak bergu…

Puisi: Ketika Hati Ingin Berteduh (Karya A. Munandar)

Ketika Hati Ingin Berteduh Aku datang untuk memeluk harga dirimu         menjaganya hingga engkau merasa bangga         menimbang rasa untuk selamany…
© Sepenuhnya. All rights reserved.