Postingan

Puisi: Ajaran Hidup (Karya Sapardi Djoko Damono)

Ajaran Hidup Hidup telah mendidikmu dengan keras agar bersikap sopan – misalnya buru-buru melepaskan topi atau sejenak menundukkan kepala – …

Puisi: Jendela Ibu (Karya Joko Pinurbo)

Jendela Ibu Waktu itu saya sedang mencari taksi untuk pulang. Entah dari arah mana munculnya, seorang sopir tak…

Puisi: Tentang Matahari (Karya Sapardi Djoko Damono)

Tentang Matahari Matahari yang di atas kepalamu itu adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu waktu ka…

Puisi: Aku Tulis Pamplet Ini (Karya W.S. Rendra)

Aku Tulis Pamplet Ini Aku tulis pamplet ini karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah Orang-orang bicara dalam …

Puisi: Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam (Karya Goenawan Mohamad)

Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam Di kota itu, kata orang, gerimis telah jadi logam. Di bawah cahaya hari pun bercadar, tapi aku…

Puisi: Muara (Karya Sapardi Djoko Damono)

Muara Muara yang tak pernah pasti sifatnya selalu mengajak laut bercakap. Kalau kebetulan dibawanya air dari gu…

Puisi: Jam Dua Malam Dingin Sampai ke Tulang (Karya Wiji Thukul)

Jam Dua Malam Dingin Sampai ke Tulang jam dua malam dingin sampai ke tulang air naik ya air naik! jam dua malam orang-orang bangun dan berbisik-bisik…

Puisi: Sagu Ambon (Karya W.S. Rendra)

Sagu Ambon Ombak beralun, o, mamae. Pohon-pohon pala di bukit sakit. Burung-burung nuri menjerit. daripada membakar masjid dari…

Puisi: Di Restoran (Karya Sapardi Djoko Damono)

Di Restoran Kita berdua saja, duduk. Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput – kau entah memesan apa. Aku …
© Sepenuhnya. All rights reserved.