Postingan

Puisi: Antara Dia dan Aku (Karya D. Zawawi Imron)

Antara Dia dan Aku Warna tulip ini seperti menyayat Paling tidak bagiku Tapi si empunya alamat sangat bahagia menerimanya. Ada persamaan…

Puisi: Di Museum Penyiksaan (Karya D. Zawawi Imron)

Di Museum Penyiksaan Di museum ini kau bisa membayangkan seluruh tubuhmu penuh sayatan pedang Seluruh lukamu…

Puisi: Romusha (Karya D. Zawawi Imron)

Romusha tamu bermata buah nyamplung adalah lelaki penjual bangsa menegak di ambang pendapa,   -- hai lurah tolol!       romusha yang kaujanjikan     …

Puisi: Gadis (Karya D. Zawawi Imron)

Gadis bahkan mata angin juga pun rimba senang memeram wangi rambutnya maka kebisuan pun meminta seribu dug…

Puisi: Ayah (Karya D. Zawawi Imron)

Ayah pagi dan angin mengelus mulus hatiku kota Rogojampi tersingkap, merdanta hati ayah sendirian di sana dan terpaksa lantaran di dusun ini kemarau …

Puisi: Elegi (Karya D. Zawawi Imron)

Elegi kerangka kesedihan itu telah jadi tugu menjulang di langit kenangan di puncaknya kukibarkan bendera geram yang melambai kapal-kapal jelaga di g…

Puisi: Telur (Karya D. Zawawi Imron)

Telur Dubur ayam yang mengeluarkan telur Lebih mulia dari mulut intelektual yang hanya menjanjikan telur Sumber: Segugus Percakapan Cinta di Bawah Ma…

Puisi: Desaku (Karya D. Zawawi Imron)

Desaku Di jembatan ini kudengar bisik sejarah Aku tak tahu, siang ini manakah yang lebih berkobar Mataharikah atau darahku yang menderaskan makna air…

Puisi: Madura (Karya D. Zawawi Imron)

Madura di tanah coklat yang sangat kucinta telah beratus tahun warna-warna kemelasan disimpan dalam rongga kerendahhatian di sini dulu beberapa pengu…
© Sepenuhnya. All rights reserved.