Postingan

Puisi: Kemudian Senyap, Kemudian Gelap (Karya Linus Suryadi AG)

Kemudian Senyap, Kemudian Gelap Kemudian senyap, kemudian gelap engkau berjalan demikian tegap Jika hari, engkau tahu, berayun dalam lena …

Puisi: Hutan Susupan (Karya Linus Suryadi AG)

Hutan Susupan menyusup hutan belantara riap rabumu masih juga kenapa diam, o katakan, kenapa sendirian hanya gemuruh hanya luruh                 ke j…

Puisi: Ceritakan Padaku tentang Ikan (Karya Raudal Tanjung Banua)

Ceritakan Padaku tentang Ikan (: Wahida) Ceritakan padaku tentang ikan yang tiap hari melintas menyapamu D…

Puisi: Mimpi Bisma (Karya Linus Suryadi AG)

Mimpi Bisma "Tak bisakah cari pria lain?" ujar Bisma Ia pun balik bersandar ke pohon munggur Angin silir mengipas batinnya yang pap…

Puisi: Priangan (Karya Saini KM)

Priangan Di sini tinggal bangsa petani Hati berakar di dalam bumi Sedang kali kehidupan Berhulu di kubur leluhur. Di sini lah…

Puisi: Maut Tidak Bertindak Sendiri (Karya Raudal Tanjung Banua)

Maut Tidak Bertindak Sendiri ( - untuk Frans Nadjira ) Benar, maut tidak bertindak sendiri di tanah ini se…

Puisi: Dinding-Dinding Kota Yogya (Karya Linus Suryadi AG)

Dinding-Dinding Kota Yogya (1)      bukan sanak bukan sahaya      bila mati aku, ikut berduka kau menuding aku, aku menuding kau kau dan aku menjadi …

Puisi: Wasiat Seorang Ayah (Karya Saini KM)

Wasiat Seorang Ayah Kereta impian, jembatan bianglala, kemanakah kami telah dibawanya? Orang-orang tidur yang tak tahu diri bergulat berebut awan dal…

Puisi: Ziarah Pohon (Karya Raudal Tanjung Banua)

Ziarah Pohon Di Wangka, sepanjang Sungai Liat dan Belinyu dari Tanjung Penyusuk ke Tanjung Ru Aku berziarah. …
© Sepenuhnya. All rights reserved.