Postingan

Puisi: Bersama Angin (Karya Acep Zamzam Noor)

Bersama Angin Bersama angin aku mengalir, merayapi Bukit dan lembah, mengisi lekuk-lekuk sunyi Subuh masih jauh dan tubuhku menggigil Bergulingan mem…

Puisi: Hujan (Karya Bakdi Soemanto)

Hujan Hujan tak turun Ketika petani memerlukan air Tetapi air tetap mengucur Dari pori-pori tubuhnya Membasah pada kaos Yang sudah tiga…

Puisi: Tanah Kelahiran (Karya Idrus Tintin)

Tanah Kelahiran Di sini kapal oleng-gemoleng angin tak ramah nakhoda asyik di kemudi kelasi tertimbun tali-temali penump…

Puisi: Natal bagi Musuh-Musuhku (Karya Kriapur)

Natal bagi Musuh-Musuhku Aku tak mampu membeli daun-daun ini fajar dengan bangunan dari air biru membebaskan ketaklukan diriku dan merek…

Puisi: Hati (Karya Arahmaiani)

Puisi Hati Perempuan berkaca mata Menyanyi sendiri Di dalam hati Musiknya detak jantungnya Perempuan berkaca mata Berpuisi sendiri …

Puisi: Natal di Gurun Pertempuran (Karya Kriapur)

Natal di Gurun Pertempuran Aku tak bisa berkata-kata lagi padamu burung punya keteduhan dari sayapnya sendiri angin punya keteduhan dari s…

Puisi: Kereta Api Terakhir (Karya Mochtar Pabottingi)

Kereta Api Terakhir Tak dihitung lagi matahari Ketika kereta itu bergerak. Ke dunia yang lain Cakrawala kehilangan ufuk. Orang-orang terpaku     di t…

Puisi: Jalan Menuju Rumahmu (Karya Acep Zamzam Noor)

Jalan Menuju Rumahmu Jalan menuju rumahmu kian memanjang Udara berkabut dan dingin subuh Membukus perbukita…

Puisi: Monumen Bambu Runcing (Karya Wiji Thukul)

Monumen Bambu Runcing monumen bambu runcing di tengah kota menuding dan berteriak merdeka di kakinya tak jemu juga pedagang kaki lima berderet-deret …
© Sepenuhnya. All rights reserved.