Postingan

Puisi: Ini Kopi Terakhir (Karya Anwar Putra Bayu)

Ini Kopi Terakhir Ketegangan diam-diam larut ke dalam cangkir-cangkir kopi semendo "ini kopi terakhir" kataku memecahkan alunan Bujang Bunt…

Puisi: Di Kedai Teh Ah Mei (Karya Nezar Patria)

Di Kedai Teh Ah Mei Bahkan sumpit ini gagal menjumput hatinya sepiring mi kering memendam jarak dan sepi menancap di kaki-kaki meja Seceret teh menye…

Puisi: Sekuntum Senyum (Karya Abdul Wachid B. S.)

Sekuntum Senyum sekuntum senyum yang kau megarkan di setiap bangun tidurmu menarik kupu-kupu untuk mencium …

Puisi: Sesudah Tsunami (Karya Nezar Patria)

Sesudah Tsunami Dengarlah, anak. Ada pintu-pintu terlepas, seperti helai kertas origami. Bangau-bangau terlihat rapi di tanah yang memar, laut menjad…

Puisi: Sembah Hyang (Karya Abdul Wachid B. S.)

Sembah Hyang duh gusti allah menyembah panjenengan bukan sebab keterbatasan justru cinta tahu semesta tak terhingga untuk apa membutuh…

Puisi: Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia (Karya Handrawan Nadesul)

Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia Bangga aku jadi rakyat Indonesia Guru lapar masih tertawa Anak makan tiwul…

Puisi: Suaramu Telah Memikat Ingatanku (Karya Agus Noor)

Suaramu Telah Memikat Ingatanku (untuk #L) Suaramu telah memikat ingatanku, hari ini kurasakan suaramu, se…

Puisi: Penumpang (Karya Iyut Fitra)

Penumpang Bukan tentang lengang. tapi perihal yang membuat mimpi terbelah sebagaimana burung-burung seolah ter…

Puisi: Piano (Karya Joko Pinurbo)

Piano : Ananda Sukarlan Telah kuserahkan hatiku yang lelah ke dalam tanganmu, piano. Cepat, cepat mainkan…
© Sepenuhnya. All rights reserved.