Postingan

Puisi: Mayat Canggung dan Hutan Riang (Karya Zen Hae)

Mayat Canggung dan Hutan Riang : kebumikan aku di sana. di ujung rel-rel itu bersama matahari yang digodam suara azan dan cekikikan : …

Puisi: Mitologi Keluarga Kami (Karya Zen Hae)

Mitologi Keluarga Kami : frans nadjira lihat, ibu mengunyah permen di beranda merasa burung di gaunnya berkicau. ada angin menerb…

Puisi: Bersyukurlah Kau Tidak Lahir dari Hujan (Karya Ahmad Nurullah)

Bersyukurlah Kau Tidak Lahir dari Hujan (- Untuk Orang yang Tak Ada) Bersyukurlah kau tidak lahir dari hujan,…

Puisi: Mengapa Tiba-Tiba Kau Menjadi Asing (Karya B. Y. Tand)

Mengapa Tiba-Tiba Kau Menjadi Asing Mengapa tiba-tiba kau menjadi asing ketika angin beku dan teka-teki itu tak juga terjawab. Sebelum sisa senja itu…

Puisi: Doa Seorang Manusia (Karya B. Y. Tand)

Doa Seorang Manusia Tuhanku Jadikan aku batu-batu tembok kota Jakarta biar kusimpan semua rahasia penghuninya dalam diamku yang setia Karena diamku s…

Puisi: Tiba-Tiba Angin pun Merunduk (Karya B. Y. Tand)

Tiba-Tiba Angin pun Merunduk Tiba-tiba angin pun merunduk ketika sesuatu berkelebat menyapa entah siapa di antara kita Barangkali daun-daun di halama…

Puisi: Seekor Burung Kehilangan Dahan Tempatnya Bertengger Dahulu (Karya B. Y. Tand)

Seekor Burung Kehilangan Dahan Tempatnya Bertengger Dahulu Seekor burung mengatupkan sayapnya bertengger di atas cerobong sebuah pabrik, termenung se…

Puisi: Adalah Campur Tangan Esa-Nya (Karya Lazuardi Adi Sage)

Adalah Campur Tangan Esa-Nya Benar, tak ada perang di langit laut dan matahari sepaham sudah bikin satu janji mengutuk diri sendiri Tapi di sini, di …

Puisi: Jakarta Malam Hari (Karya Lazuardi Adi Sage)

Catatan Jakarta Malam Hari aneh sekali jakarta malam hari penuh bunga aneka warna bergantung di langit kelam bergoyang bunga bergoyang angin kehidupa…
© Sepenuhnya. All rights reserved.