Postingan

Puisi: Kumpulan Asap yang Menyala (Karya Idrus Tintin)

Kumpulan Asap yang Menyala Malu bertanya sesat di jalan Benar Tak salah satu aksara pun. Tanyakanlah! Bilakah kalian berhenti menabung…

Puisi: Sampai Tiba Giliran (Karya Idrus Tintin)

Sampai Tiba Giliran Cerita tua tentang sebuah pohon tua dan ini bukan dongeng Di negeri maha tinggi sepuluh dimensi Pada malam lima belas bulan ke de…

Puisi: Catatan Harian Seorang Kelasi (Karya Idrus Tintin)

Catatan Harian Seorang Kelasi Kapal bertambat di dermaga Bulan hinggap melepas cahaya Malam menggelegak Dahaga menggeliat         Ada alasan menjinak…

Puisi: Krakatau (Karya Idrus Tintin)

Krakatau Di sana pulau di sini pulau tengah-tengahnya laut memisah di sana laut di sini laut tengah-tengahnya gunung yang marah di sana g…

Puisi: Pesan Seorang Ayah kepada Anaknya (Karya Idrus Tintin)

Pesan Seorang Ayah kepada Anaknya Anakku! Diam dan tenang adalah pemberian Ribut dan badai tanda kehadiran sesuatu yang baru sesudahnya ad…

Puisi: Anak (Karya Idrus Tintin)

Anak Ketika engkau tersedak dalam buaian aku kecilkan suara radio yang sedang mengalunkan lagu Pe Ramli yang paling kusuka Engkau laks…

Puisi: Singapura (Karya Idrus Tintin)

Singapura Kepada Suratman Markasan Ini bukan lagi Tumasik bukan Selat yang disebut-sebut Cikgu Mamud orang Daik Lingga yang d…

Puisi: Akhir Kata (Karya Idrus Tintin)

Akhir Kata Pada mulanya ialah bunyi lalu tercipta kata pertama untuk menyatakan terima kasih dari hati yang putih tak tercela Setel…

Puisi: Asrama Dai-To-A (Karya Idrus Tintin)

Asrama Dai-To-A Inilah gedungnya tiga puluh langkah dari tembok penghadang gelombang tepat menghadap barat berliku melingkar mengiku…
© Sepenuhnya. All rights reserved.