Puisi: Tiga Percakapan Telepon

Tiga Percakapan Telepon


(1)
"Jadi kau tak akan kembali?
Kenapa tidak dulu-dulu kau bilang
bahwa kau....?"

"Aku capek."

"akan meninggalkanku,
karena aku tak mampu
memberimu..."

"Aku bosan."

"anak. Jadi kau tak akan
kembali? Rumah kita
akan menjelma..."

"Aku kecewa."

"kuburan. Kau akan kutanam
di sudut selatan
pekarangan..."

"Aku benci."

"di tempat kita biasanya
menguburkan tikus
yang tak habis..."

"Aku..."

"dimakan kucing
kesayanganmu."


(2)
"Suaramu tak begitu jelas!"

(Deru sepeda motor,
suara kereta listrik,
orang-orang...)

"Di mana kau?"

(mobil yang knalpotnya dicopot,
teriak tukang roti,
anak-anak ribut...)

"Pakai telpon umum, ya?"

(seperti isak tangis,
seperti tetesan air
dari atap yang bocor...)

"Kau mau bilang apa?"

(seperti lolong anjing
yang sepanjang malam
terbawa angin...)

"kau main-main, ya?"

(seperti suara kucing
yang terlindas mobil
ketika menyeberang jalan...)

"Suaramu tak begitu jelas!"


(3)
"Ya, lantas?"

"Ya dibawa polisi. Itu lho,
waktu ada bakar-bakaran."

"Oke, lantas?"

"Kau tahu, Amin kerja di restoran
yang dibakar orang kampung;
ia membawa pulang beberapa panci."

"Lantas?"

"Ya itu, ia dijemput polisi.
Katanya ikut njarah."

"Lantas, kenapa nelpon?"

"Ya itu, adiknya bunting.
Tidak mau ngaku siapa.
Kepala sekolah bilang,
Bu, gadis hamil tidak pantas
mengikuti pelajaran. Maaf, anak Ibu
pindah sekolah saja –
kalau ada yang mau menerima.
Begitu katanya.
Ya, Wati sekarang di rumah,
tak sekolah."

"Tapi, untuk apa kau nelpon?"

"Ya itu, suamiku kena PHK.
Taukenya lari menyelamatkan diri.
Katanya, Di sini kagak aman,
usaha di tempat lain aja."

"Memangnya kenapa?"

"Ya bagaimana?
Apa yang harus ku-&^#*(0&8%)?"

"Apa?"

"*&^*%2-5=!"

"Halo! Narti! Halo!
Apa yang bisa kukerjakan
untuk menolongmu?"

"&*^%$*&*klk!"

"Halo! Halo! Jangan!"

Puisi Tiga Percakapan Telepon
Puisi: Tiga Percakapan Telepon
Karya: Sapardi Djoko Damono

Baca Juga: Puisi Menyesal

0 Response to "Puisi: Tiga Percakapan Telepon"

Posting Komentar

close