Puisi: Kalah dan Menang (Karya Sutan Takdir Alisjahbana)

Kalah dan Menang

Tidak, bagiku tidak ada kalah dan menang!
Sebab kuputuskan, bahwa kemenangan sudah
pasti untukku saja. Kalah tinggal pada mereka yang lain:
Yang mengeluh bila terjatuh,
Yang menangis bila teriris,
Yang berjalan berputar-putar dalam belantara

*
Di padang lantang yang kutempuh ini,
aku tak mungkin dikalahkan:
Sebab disini jatuh sama artinya dengan bertambah
kukuh berdiri.
Tiap-tiap pukulan yang dipukulkan berbalik berlipat
ganda kepada sipemukul.
Malahan algojoku sekalipun yang akan menceraikan
kepalaku dari badanku, akan terpancung sendiri seumur
hidupnya:
Melihat mataku tenang menutup dan bibirku berbunga
senyum.

4 Mei 1944
Dari: Majalah Pembangunan, 23 Desember 1945

Puisi: Kalah dan Menang
Puisi: Kalah dan Menang
Karya: Sutan Takdir Alisjahbana


Baca juga: Contoh Puisi tentang Ibu
Blogger
Disqus
Komentar

1 komentar

Puisi "Kalah dan Menang" karya Sutan Takdir Alisyahbana. bercerita tentang perjuangan Tentara PETA Blitar.
Dalam novelnya berjudul :Yang Kalah dan Yang Menang". ditulis pula dengan gaya pseudo sastra yang langka menarik. Banyak nama tokoh pejuang dan tempat peristiwa yang disamarkan.

Jenderal legendaris Supriyadi sebagai pemimpin utama pemberontakan. Dengan gagah perwira. Ia berani melawan Bala Tentara Kerajaan Jepang Dai Nippon. Bahkan Ia pernah dikabarkan tewas. Konon dipancung kepalanya dengan samurai. Namun malah sebaliknya. Tim spesialis algojo dr pasukan elit Jepang. Gagal eksekusi Supriyadi. Ternyata justru kepala para algojo itu sendiri yang terpenggal.

Supriyadi meloloskan diri. Kisah ini persis seperti Almasih Yesus Kristus yang bangkit dari kematiannya. Raganya hilang misterius. Jepang bingung dan malu. Kabar itu dirahasiakan hingga sekarang ini. Anehnya Supriyadi pernah pulang ke rumah. Menemui ayah kandungnya. Dan menemui para sahabat karibnya.

Pada saat musuh mengepung dg sistim pagar betis. Peta tidak berdaya. karena kalah persenjataan. habis amunisi n minim pasukan. Shodanco Partohardjono ayah angkatnya. Sebelum tertangkap musuh. Segera membubarkan pasukan. Kepada Supriyadi diperintahkan tidak boleh menyerah. Supaya terus melakukan perang gerilya dengan taktik "pacak baris pendhem" dan "lampah sandhi yuda". Upayakan terus mengobarkan perang revolusi demi meraih kemerdekaan negara Indonesia. Dengan memakai pola taktis n strategis. Kombinasi sistim perang wilayah n perang semesta.

Partohardjono sebagai Sang Pengibar Bendera Merah Putih di Blitar 14 Febuari 1945. Banyak memberi motivasi dg Religi Bushido Jawa. Juga Ki Ageng Kasanbendo sbg guru spiritual. membimbing Supriyadi spy berwatak Teguh Bhirawa Anoraga. Sedangkan Martinus Sukandar yang memberikan bekal ilmu kemiliteran.

Setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Supriyadi selalu menyamar jadi manusia jelata hingga saat ini. Setiap pindah tempat selalu ganti identitas dengan nama samaran. Dan legenda perjuangan itu akan tetap hidup abadi sepanjang masa.

Terima kasih Sang Pujangga Baru. Eyang Sutan Takdir Alisyahbana. Karya sastramu itu sangat mengilhami nun mempesona. Lewat roman sejarah tsb. Engkau rekam misteri sejarah perjuangan revolusi Indonesia.
Puji n doaku ber-semayam-lah dengan damai n bahagia di sorgawi. bersama 7 Pahlawan Revolusi Blitar beserta segenap para pahlawan kusuma bangsa Indonesia

Balas