Debur Sanur

Debur senja. Dan angin begitu lebih
kudengar suara memecah tepi juga pasir. Camar-camar tua
waktu susut pelan-pelan. Kauingat kepergian itu? Suara laut
mengantar cuaca pada lengang. Kaumencium keningnya di rembang
bangau-bangau pulang. “Kutitipkan sebuah peta agar malam tak menjalar liar!”
Beranda kecil. Dan sepokok kembang kertas (aku tahu matamu basah)
ceritakan segala sangsai pada pantai

Banyak kata setelahnya. Tapi adakah yang lebih
dari sekedar ucap selamat tidur? Sanur terus berdebur
ombaknya menghempas ranjang. Kekasih, tak luput jua kuhitung jejak
bila selesai lengang berderai. Kukirim ia sebagai rindu
maka berhentilah bernyanyi lagu sangsi. Bukankah pantai
adalah kesetiaan paling landai.

Di dinding rumah kayu kita. Di sebelah bingkai puisiku yang tak selesai
aku tahu kautengah menghitung tanggal. (Barangkali seraya mencium
pakaianku yang belum kaucuci). “Aku benci bila cinta
hanya untuk saling menyiksa!”
Tapi di sini. Di antara debur ombak pantai sanur
kutulis debar itu. Aku akan kembali.

Mei, 2010
Puisi: Debur Sanur
Puisi: Debur Sanur
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Ibu
Loading...

Post A Comment:

0 comments: