Puisi: Penumpang (Karya Iyut Fitra) Penumpang Bukan tentang lengang. tapi perihal yang membuat mimpi terbelah sebagaimana burung-burung seolah ter…
Puisi: Kangen (Karya Iyut Fitra) Kangen (sekadar catatan buat nonera) di sini aku hanya sendiri, sayang tidak seperti hari-hari lain, dadamu kau selimutkan untuk segala gelisahku, ke…
Puisi: Sinopsis Legenda (Karya Iyut Fitra) Sinopsis Legenda sebagai tuahkah, malin atau si jebat entahlah, berkali kugulung-kembangkan layar dengan warna berbeda, sampai nyaris sempurna laut k…
Puisi: Luka Padang (Karya Iyut Fitra) Luka Padang "jangan ucap apa-apa kalau hanya berarti selamat malam!" lalu diantarkan kita ke berbagai persoalan tahun-tahun hanyut. seperti…
Puisi: Selamat Pagi Usia (Karya Iyut Fitra) 6 Februari Selamat Pagi Usia kembang-kembang itu terus bermekaran, datang dan mereka kirim setiap gendang riuh, padaku jauh terpukau ruang gelap: sun…
Puisi: Lelaki di Jendela (Karya Iyut Fitra) Lelaki di Jendela Ada lelaki setengah tua tertegun di jendela tatapannya lumpuh, angin menyapu gurat nan gelisah di setiap jengkal pandang ha…
Puisi: Ibu (Karya Iyut Fitra) Ibu Sebuah senja. Dedaun mersik digumul angin Selendang tua dan bola mata yang jauh. Ia lihat musim merapuh Sampai juga, anakku. Sampai juga …
Puisi: Laut (Karya Iyut Fitra) Laut setelah kutinggalkan pelayaran, cuaca berubah dan musim pun diganti angin atas warna yang lain sebegitu aku bermusuh dengan rasa asin, penunggua…
Puisi: Lelaki Jalan (Karya Iyut Fitra) Lelaki Jalan Ke jalan, anakku. Lelakilah yang mengukur simpang-simpang dalam bola kabut. Atau neraka yang terpancar dari kerusuhan teruskan s…
Puisi: Boneka (Karya Iyut Fitra) Boneka Pada matanya yang berdebu kulihat seorang lelaki menuju malam. langkahnya seperti pertempuran yang kalah. di pundaknya cuaca terus men…
Puisi: Sajak Senja (Karya Iyut Fitra) Sajak Senja Kumasuki lembah itu. cuaca tak lagi berteguran senja adalah perpisahan paling gawat kita saling berpinjam waktu. dalam tahun-tahu…
Puisi: Yang Berjalan ke Dalam Kelam (Karya Iyut Fitra) Yang Berjalan ke Dalam Kelam Kelak, bila suaraku tak lagi kau dengar di rabun malam. di jalan-jalan sebelum menempuh kota hanya kan terlihat …
Puisi: Untuk Apa Lagi Membicarakan Alamat (Karya Iyut Fitra) Untuk Apa Lagi Membicarakan Alamat Kami berdiri di sini telah lama jiwa-jiwa yang goyah. Bumi rapuh tak ada detik atau menit yang tak bergu…