Pematang

Setiap siang sebelum petang kita selalu ke sana. Aku dengan lelangkah tak beralas. Kau memakai rok kembang kanak-kanak. Aku suka runduk padi yang menguning, katamu. Dalam lembar-lembar lugu. Seekor belalang hijau kutangkap agar riangmu berasa lengkap. Gerombolan pipit sawah. Pak tua bertopi pandan dan ibu dengan tali menggaro kaulukis. Sebelum usia gegas mengintai. Di pematang ini kita tak pernah gamang, bila kelak waktu jadi sebimbang pimping, bisakah kita kabarkan rindu pada angin? Kemudian sebelum sampai dusun (sebelum sampai senja), lukisan itu pun kau berikan. Pajang ia di setiap lengang, ada kisah kita di dalamnya, ujarmu tak ragu.

Ilalang dan uir-uir. Undak-undak menuju sawah. Di pematang itu aku berjalan pelan. Menjumlah jejak juga detak. Janjimu pada usia terpenuhi. Bersama panen penghabisan. Serta tumpukan jerami. Kubayangkan kautengah berlari di antara capung dan burung. Lihat, telah kulukis padi-padi yang menguning, sorakmu di ujung pematang. Lalu meloncat ke dalam kelam. Secepat itukah kesetiaan terlunasi?

Payakumbuh, 2009
Puisi: Pematang
Puisi: Pematang
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Bertema Ibu

Post A Comment:

0 comments: