Sketsa Etsa

Dari jendela, pandanglah kerikil di batin
tangan siapa sengaja menabur benih harap
sedangkan tadi malam mimpi tak singgah
adalah kesadaran realitas
menatap ujung laut terlalu luas
(apakah pada garis itu bertemunya dua sisi)

Dari luar rumah, ingat-ingat segala nota
tersia-sia seperti sisa nasi bungkusan

Lalu renungkan secara seksama
"siapa ingin mengapung di angkasa hitam?"
adalah lagu kenyataan
tiap orang menunggu peristiwa
sejalan dengan skenario garapannya.

Dari jendela, perhatikan jalan
simpang siur dan ramai
tidak ada yang jenuh melalui
serta masuk menjadi sejarah lama.

Klaten, 1990
Puisi: Sketsa Etsa
PuisiSketsa Etsa
Karya: M. Nurgani Asyik

Post A Comment:

0 comments: