Kelak, Jika Musim Hujan Berganti

bagaimana mungkin kulupukan baris-baris hujan yang telah mengekal dalam kenangan bersamamu. kala itu ahad siang, di langit matahari mengantar langkahku, jam belum genap angka 12. kau sudah menunggu di tempat yang kau kabarkan. "buka pintumu sedikit saja aku akan menghambur, dan merengkuhmu," pesanku pada angin sebelum angin mengantar hujan.

kini, saat aku jauh darimu, hujan pun turun. kulihat langkahnya memukuli dadaku. sebaris air yang menempel di kaca kamarku, seperti melukis wajahmu. aduhai, kau tersenyum: seikat anggur menawarku untuk memetik dengan bibirku. "bagaimana bisa aku melupakan seikat anggur, dan sebaris hujan?" tanyaku ketika seseorang ingin sekali aku hapus warna hujan atau ingatan pada musim basah

mungkin, kau pun sama merasakan. tak bisa lari dari ingatan ihwal hujan, seikat anggur yang ada di bibirmu. juga aroma kopi yang meruap dari sudut kota ini. "karena itu, usah tanya apakah aku sudah lupa pada kenangan-kenangan itu?" kau balik tanya sambil memasang wajah merah

kelak, jika musim hujan berganti. dan pohon dalam rahimku telah menumbuh akar kuat. serta buah anggur memasak di bibirku, aku akan kembali untuk menuai bersamamu. siapkan kenderon dan sebuah topi caping. "kita akan menjadi petani di ladang yang kita tanam bersama."

kau pun menghitung-hitung purnama. mengeja kalender dan hari. percayalah, ujarmu, biarpun sejauh aku pergi pulangnya ke ladang kita. bertani....

14-15 Maret 2011
Puisi: Kelak, Jika Musim Hujan Berganti
Puisi: Kelak, Jika Musim Hujan Berganti
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Puisi Ungkapan Hati untuk Seseorang

Post A Comment:

0 comments: