Burung-burung Kematian

1.
Burung gagak adalah sepiku
ketika kucari sarang gelap
penjara maut batas hening-Mu
Mematuki bangkai kata yang tersisa
menunggu penerimaan alamat di rahim suara
sejauh batas ruang menerangi kegelapan
terengah mengejar bayangan perbatasan

2.
Burung kedasih adalah gema sajakku
mengabarkan tangis pengembara
yang kehilangan langkahnya
sehabis tanda, dan jejak mendaki kata
Apa yang tersampaikan sebelum kelahiran pertama
tentang maut yang bersarang dalam diri
dan kenangan tersendat mencari mimpi
begitulah akhirnya aku gemetaran kedinginan
sedetik setelah kabar tinggal kematian.

3.
Burung prenjak mengabarkan kabar sayup
tentang-Mu yang menunggu di setiap pintu
Jangan sesatkan aku dalam hutan purba
iringan pelayat membawa pengampunanku
pisungsung nyawa suntingan dosa
tiada yang lebih putih dari ketiadaan
yang menyangkut penyerahan dan kejalangan
Kusaksikan dengan indra yang berdusta
menatap cakrawala menjadi sejuta
dan itu belum serambut huhasta

Kusampaikan kabar kefanaan ini selaksa
belum terluruhkan sudah Kau putus tali nyawa.

4.
Burung-burung walet berlayangan di kuala
Apa yang kau tunggu di setiap pantai sunyi
Setelah hari kehilangan rembang dan cuaca
Masih adakah yang kau rentang dengan air mata?
Jarak yaang terjauh terlepas sehabis warna dunia
Hadirku di perlintasan pantai hampa itu
adakah Kau lihat dosaku menyatu malam terpanjang?

Burung-burung walet menyinggahi pertobatanku
pelayaran menuju pantai dan kau berkedip di pusat arah
makin jauh melambaikan tangan di seberang
dan aku Kau biarkan berlayar dengan luka kian dalam
Burung-burung walet sehabis penyeberangan
kabarkan riwayat ini sehabis aku kembali ke Sunyi.

Yogya, September 1984
Puisi: Burung-burung Kematian
Puisi: Burung-burung Kematian
Karya: Edhy Lyrisacra

Baca Juga: Puisi Mesra
Loading...

Post A Comment:

0 comments: