Gerimis Senja

Pada senja itu gerimis baru saja pergi
meninggalkan sisa di tingkap
berharap kembali pada hari-hari kemarau
menjemput rumput basah.

Duhai, tak ada percakapan pada senja itu
selain kata gerimis tentang kenangan musim dingin
membalut tubuh ringkih dan mata cekung
menatap sisa perjalanan kita;
mesti ada kenangan yang tersimpan
setelah ratapan-ratapan kita tinggalkan.

Pada senja-senja selanjutnya
tinggallah sepetak dada perih dan ngilu
menampung sejumlah rindu
gerimis senja, yang biasa
kita titipkan pada burung-burung malam.

Puisi: Gerimis Senja
Puisi: Gerimis Senja
Karya: Mahdi Idris

Baca Juga: Kumpulan Sajak Rindu
Loading...

Post A Comment:

0 comments: