Puisi: Persahabatan (Karya Mahdi Idris) Persahabatan Hanya bau tanah yang membedakan kita sedang bau laut tetap asin, juga angin tak pernah berbeda senantiasa bertiup se…
Puisi: Bulan dan Kenangan (Karya Mahdi Idris) Bulan dan Kenangan Bulan masih mengintip di jendela angin menebar senyum pada lelembar gordin menyibak, membuka cakrawala sejauh ka…
Puisi: Sebagai Lelaki (Karya Mahdi Idris) Sebagai Lelaki Aku tak pernah membiarkanmu disayat waktu diterbangkan kelana panjang sebab usia adalah nakhoda yang membawamu ke pulau sur…
Puisi: Jika Ibu telah Pergi (Karya Mahdi Idris) Jika Ibu telah Pergi Jika ibu pergi terlalu pagi membawa sejumpit ingatan mimpi di mana kau tanam kayu merindangi tubuhnya yang terbaka…
Puisi: Kau (Karya Mahdi Idris) Kau Aku mampu melukis wajahmu di manapun aku mau bahkan di awan, aku mampu mengukir walau seribu wajah yang kau miliki namun aku tak ma…
Puisi: Gerimis Senja (Karya Mahdi Idris) Gerimis Senja Pada senja itu gerimis baru saja pergi meninggalkan sisa di tingkap berharap kembali pada hari-hari kemarau menjemput rumput…
Puisi: Indonesia, dalam Denyut Nafasku (Karya Mahdi Idris) Indonesia, dalam Denyut Nafasku Sang proklamator yang telah pergi, suaranya yang menggema itu adalah ruh yang bersemayam dalam denyu…
Puisi: Pengorbanan (Karya Mahdi Idris) Pengorbanan Tuhan, ambillah yang Kau mau aku sedia merontokkan bulu dan belulangku, aku sahaya tanpa maqam di hadapan-Mu. Jika Kau mau, …
Puisi: Kalender (Karya Mahdi Idris) Kalender Aku dan kalender tua yang tergantung di dinding ruang tamu bertatapan lebih tiga windu Satu persatu tanggal itu pergi meningg…
Puisi: Melati (Karya Mahdi Idris) Melati Melati, kau telah tumbuh dalam taman hati mekar berbunga menghiasi mata memandang. Melati, kau tak tumbuh sendiri tapi ada cinta …
Puisi: Angkuh (Karya Mahdi Idris) Angkuh Kau masih diam, menatap anak-anakmu diguyur hujan sesekali langit bergemuruh mentertawai awan lalu engkau menunjuk ke langit mena…
Puisi: Membangun Rumah (Karya Mahdi Idris) Membangun Rumah Rumah ini terlalu sempit untuk kita berdua tiada tempat mengukir sejarah yang lebih dalam di mana mereka saksika…
Puisi: Cemburu (Karya Mahdi Idris) Cemburu Dalam cangkir kopi aku melihatmu bersolek tersenyum diambang pintu. Menjelang malam kau kembali pada muasal luka lama menjem…
Puisi: Menjelang Amarah (Karya Mahdi Idris) Menjelang Amarah Seutas tali rindu masih melilit di keningmu Di senja kemarau Melirik sebatang resah air mata Seperti senja kala Selem…
Puisi: Kota Bumi Gas (Karya Mahdi Idris) Kota Bumi Gas Lihatlah sepajang jalan ini lubang tanpa penggali debu-debu bersayap memasuki sarang awan. anak sungai lahir dari pori-por…
Puisi: Malam Tahajjud (Karya Mahdi Idris) Malam Tahajjud Akan kutuai sebilah kerinduan mencumbui malam pada lorong sunyi antara kerimbunan air mata dan kelakar buta, berharap sebutir…
Puisi: Tadarus (Karya Mahdi Idris) Tadarus Mengasah lagi imaji dalam ruang sunyi mengaji ayat-ayat suci menenangkan jiwa dari goda menjauh dari kalimat murka. Kud…
Puisi: Demokrasi (Karya Mahdi Idris) Demokrasi Kita adalah bangsa berdaulat yang punya sekerat mimpi menata kehidupan bernegara. Mimpi yang kemudian kita titipkan pada an…