Puisi: Negara Waktu Karya: Gus tf
Negara Waktu

kau pun lalu berkata, “Hanya ketika waktu tak ada,
kau boleh bilang keabadian engkau yang punya.”

Tapi inilah kota – katamu negara – yang tergerus
angan cahaya. Setiap hari bila terjaga, kau bermandi khayal
khatulistiwa. Katamu, “Lihatlah akar menjalar, merucut tumbuh
ke batang tubuh. Atmosfer cair, melengkung rebah ke bingkai air.
Sungai inikah, cemas sejarah, mengalir-bermuara ke laut entah?”

Tapi inilah kampung – katamu kota – yang tercangkul
di ritus tanah. Setiap hari bila terjaga, engkau tercerap, lenyap
ke khayal indah. Katamu, “Lihatlah gedung menjulang, menyundul
awan bagai melayang. Lampu berpendar, berdenyar ke gelung akar.
Beton inikah, cemas sejarah, memanggul-bawa ke zaman entah?”

Mereka pun lalu berkata, “Hanya ketika kau tak ada,
kampung dan kota bagai waktu, akan memisah tak berkira.”

Payakumbuh, 1998
Puisi Negara Waktu
Puisi: Negara Waktu
Karya: Gus tf

Baca Juga: Puisi Bermajas
Loading...

Post A Comment:

0 comments: