Puisi Gus tf Sakai

Puisi: Gagak Putih (Karya Gus tf)

Gagak Putih Jangan terlalu percaya pada mata. Mungkin materi yang membentuk realitas ini cuma gelombang suara. Dengarlah. Seseorang …

Puisi: Si Bisu, Si Lupa (Karya Gus tf)

Si Bisu, Si Lupa Letih mengembara, capek berkelana, akhirnya ia putuskan jadi Si Bisu. Ketika itulah ia tahu: Tiap kali bicara, sebena…

Puisi: Usia (Karya Gus tf)

Usia maka tertahan aku: di bandul jam. Semua getar melamban jadi gema. "Siapa yang memecah kulit, keluar dari cangkangnya?&quo…

Puisi: Setiap Terjaga (Karya Gus tf)

Setiap Terjaga Setiap terjaga, ia berkata, "Celaka, kenapa aku terbangun di tubuh yang sama?" Tapi tidak. Setiap tidur, …

Puisi: Petani (Karya Gus tf)

Petani Jika kautanya mauku kini, kujawab: jadi petani . Membalik, menggembur, mencangkul tanah dalam diri. Kata-kata sudah usai, ri…

Puisi: Negara Waktu (Karya Gus tf)

Negara Waktu kau pun lalu berkata, "Hanya ketika waktu tak ada, kau boleh bilang keabadian engkau yang punya." Tapi inil…

Puisi: Daging (Karya Gus tf)

Daging Angkasa luas inilah yang menggelembungkan balon di kepalaku. Bongkahan planet melayang, seperti gumpalan dada yang mengeran…

Puisi: Daging Akar (Karya Gus tf)

Daging Akar akhirnya, siapa kausebut kini: Si serat dingin ataukah daging yang terjanji? Seperti takdir, sosoknya rebah membuntuti.…

Puisi: Sepuluh Dialog Tubuh (Karya Gus tf)

Sepuluh Dialog Tubuh 1 "Tak ada yang salah pada lupa." "Daging mengucap pada dirinya." 2 "Kaugali-gal…

Puisi: Bukan Bagian (Karya Gus tf)

Bukan Bagian Suatu ketika – entah bila – aku bukan bagian dari alam raya. Tentang apakah manusia, tentang apakah dunia, bagiku semua …

Puisi: Sajak (Karya Gus tf)

Sajak (1) Kau tentu kenal kerumun itu, gumpal kata kosong dalam benakku. Sesekali bagai ruang, tapi lebih sering hanya geronggang. …
© Sepenuhnya. All rights reserved.