Puisi: Siang Ini Bersama Doha (Karya F. Rahardi)

Puisi "Siang Ini Bersama Doha" menggambarkan keletihan manusia dalam menjalani hidup. Namun, di balik keletihan tersebut, ada penerimaan terhadap ...
Siang Ini Bersama Doha

matahari jelita tersembul dari kerah bajumu
seperti pernah dijanjikannya mula-mula
maka dengan jenaka dipulasnyalah wajah kita
menjadi cokelat tua
doha,
kau bersepatu, betapa tegap langkahmu
sedang sandalku yang tua
tersipu-sipu di atas debu
wah, panasnya siang ini
gerombolan bambu menjerit-jerit resah sekali
sedang daun nangka yang kuning
terberai di tanah

doha,
kita tak sehebat tokoh-tokoh mahabarata
kepala kita terlalu tipis di bawah surya
dan matamu memijar
bukan main pedasnya
kita memang badut-badut tua yang konyol
tersipu-sipu di atas panggung
dan matahari jelita
bagai lampu pentas yang tajam
menggores kening kita
dengan kerutan-kerutan yang dalam
ah, doha
mari kita berteduh
di gardu itu.

Limbangan, 21 Mei 1974

Analisis Puisi:

Puisi "Siang Ini Bersama Doha" karya F. Rahardi adalah sebuah karya yang penuh dengan imaji yang kuat, perasaan yang mendalam, dan kejujuran dalam menggambarkan realitas hidup. Dalam puisi ini, penyair tidak hanya menyampaikan gambaran suasana siang yang terik, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan perjalanan hidup yang dipenuhi dengan ketegangan, keletihan, dan pencarian makna.

Suasana Siang yang Membakar

Puisi ini dimulai dengan deskripsi tentang matahari yang "jelita" atau indah, yang menyembul dari "kerah bajumu" seolah-olah sebuah janji yang dipenuhi. "Matahari jelita" dalam konteks ini dapat diartikan sebagai simbol dari harapan atau tujuan yang tampak menggoda namun membakar. Ketika matahari "dengan jenaka dipulasnyalah wajah kita / menjadi cokelat tua," ia menyiratkan proses penghangatan yang tidak hanya fisik, tetapi juga emosional dan psikologis. Penyair menggambarkan bagaimana panasnya matahari mengubah segalanya menjadi lebih keras dan lebih sulit, seiring dengan perjalanan waktu yang terus berjalan tanpa henti.

Doha sebagai Teman Seperjalanan

Tokoh "Doha" dalam puisi ini tampaknya merupakan sosok yang menemani penyair dalam menghadapi kerasnya siang. "Kau bersepatu, betapa tegap langkahmu / sedang sandalku yang tua / tersipu-sipu di atas debu" menggambarkan perbedaan antara keduanya. Doha yang bersepatu melambangkan kekuatan atau keteguhan, sedangkan penyair dengan sandal tua menggambarkan kerentanannya, kelelahan, atau ketidakmampuannya untuk mengikuti perjalanan dengan sepenuhnya. Dalam hal ini, ada kontras yang kuat antara keduanya yang mungkin melambangkan perbedaan pengalaman hidup, pandangan, atau bahkan status sosial.

Kekerasan Alam dan Keletihan Manusia

Ketika penyair menggambarkan "gerombolan bambu menjerit-jerit resah sekali" dan "daun nangka yang kuning terberai di tanah," ia menunjukkan betapa kerasnya alam yang terus bergerak. Alam bukan lagi hanya latar, tetapi juga menjadi saksi dari ketegangan dan kelelahan manusia. Suasana ini semakin memperlihatkan bahwa meskipun manusia berusaha bertahan dalam kerasnya hidup, alam tidak mengenal kasihan dan terus berputar dengan cara yang sama.

Penyair menggambarkan ketidakberdayaannya di bawah terik matahari yang menyengat. "Kepala kita terlalu tipis di bawah surya" dan "matamu memijar, bukan main pedasnya" menggambarkan betapa panasnya hidup yang dijalani. Matahari yang "jelita" bukan lagi simbol harapan, tetapi simbol dari tantangan dan beban yang berat. Dalam keletihan ini, penyair menyadari bahwa mereka tidak sehebat para pahlawan Mahabharata, tokoh-tokoh yang gagah perkasa dalam mitologi, karena kehidupan yang mereka jalani jauh lebih kompleks dan penuh dengan kelemahan dan kerentanan.

Keletihan dan Penerimaan

Di tengah kelelahan ini, penyair menegaskan bahwa mereka adalah "badut-badut tua yang konyol" yang "tersipu-sipu di atas panggung." Gambaran ini menunjukkan penerimaan terhadap kenyataan bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna, yang menjalani hidup dengan segala kekonyolan dan kegagalannya. Mereka berdiri di panggung kehidupan, yang diterangi oleh matahari, sebuah "lampu pentas" yang tajam, yang "menggores kening kita dengan kerutan-kerutan yang dalam." Kerutan-kerutan ini, sebagai simbol dari usia dan pengalaman hidup, menunjukkan bahwa meskipun manusia berusaha untuk tampil kuat dan berani, pada akhirnya mereka akan menghadapi kenyataan akan waktu yang terus berlalu.

Beristirahat dalam Pencarian Makna

Namun, meskipun penuh dengan keletihan, puisi ini tidak sepenuhnya suram. Dalam kesadaran akan keletihan ini, ada tawaran untuk berteduh. "Mari kita berteduh di gardu itu" adalah kalimat penutup yang menawarkan sebuah momen peristirahatan atau pelarian dari kerasnya hidup. Gardu, sebagai tempat perlindungan, simbolis bagi penyair sebagai tempat di mana ia dan Doha bisa beristirahat dari panasnya matahari dan beban kehidupan. Di sinilah mereka bisa merenung, menenangkan diri, dan mungkin mencari makna dalam perjalanan yang telah mereka jalani.

Puisi "Siang Ini Bersama Doha" adalah sebuah karya yang mengajak pembaca untuk melihat kehidupan dengan jujur dan penuh refleksi. Dengan gambaran alam yang keras dan panas, serta ketegangan antara kekuatan dan kelemahan, penyair menggambarkan keletihan manusia dalam menjalani hidup. Namun, di balik keletihan tersebut, ada penerimaan terhadap ketidakmampuan dan kekonyolan hidup, serta sebuah tawaran untuk beristirahat dan merenung. Puisi ini menunjukkan bahwa meskipun hidup penuh dengan tantangan dan ketidakpastian, ada keindahan dalam proses pencarian makna dan penerimaan akan realitas.

Floribertus Rahardi
Puisi: Siang Ini Bersama Doha
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.