Dialog Kebingungan

banten, 8 Juli 2045

(serupa bayang-bayang, mungkin dari masa lalu, aku merasa hadir. serasa 
mimpi. semacam de javu....................................
...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
bacalah catatan ini, mungkin tulisan kakekku):

malang, 30 Oktober 1995

kuguratkan pena pada lembar buku sejarah bangsa ini, berjuta rasa kekaguman, 
kegundahan, serta pertanyaan tak berjawab.

"kau masih perlu belajar banyak dari kehidupan, asam garam dunia pahit pedih 
perjuangan, harus kau nikmati, anakku," katamu

ya, aku kini belajar pada sejarah, yang ditulis begitu kacau, mengalahkan akal 
sehat dan logika, tumbal sulam penuh manipulasi kata-kata, menghipnotis dengan 
kecanggihan sihir informasi satu arah (yang ada hanya satu versi sejarah resmi, 
yang lainnya sub versi, tak akan diakui!)

"apa yang kau ketahui tentang sejarah, anak muda? sedang kau sendiri tak pernah mengalami kepahitan bangsa ini berjuang melepaskan diri dari penjajahan, bergelut dengan segala pengkhianatan,

tahukah kau betapa merahnya darah yang mengalir dari luka-luka bangsa ini? dan betapa revolusi (yang mungkin tak akan kau pahami) harus dibayar dengan darah 
dan airmata

engkau masih teramat hijau memandang dunia"

ya bapa,
kami memang tak merasakan semua deru revolusi. kami memang tak merasakan kepahitan pertikaian generasimu. kami memang tak merasakan itu semua (dan kami tak ingin menanggung seluruh warisan permusuhan, sebuah dosa besar di masa lalu yang kau pikulkan pada anak-anakmu)

"jangan sekali-kali melupakan sejarah!"

catatan sejarah siapa yang harus kami percaya?

"anak muda, jangan terlalu banyak membantah omongan orang tua. jangan pula banyak

bicara yang tiada guna, karena apa yang kami katakan itulah kebenaran sejati,
kau tak akan sanggup merekonstruksi sejarah masa lalu, selain kami sendiri yang 
menuliskannya untukmu, jangan percaya siapapun selain kepada kami, yang menyelamatkan negeri ini

bukankah kebenaran akan selalu menang?
dan kamilah kebenaran, karena kamilah yang menang
bersiaplah saja untuk menjadi pewaris kami,
pemimpin masa depan..."

ya, mungkin begitu katamu, kami akan menjadi pemimpin masa depan, tapi sungguh, kami tak mengerti apa maumu sebenarnya? kau suruh kami kami jadi calon pemimpin, tapi tak pernah kau beri kesempatan. kau bilang kami harus kritis, ketika kami bicara kau menindas dengan kekuasaan yang bengis. jangan salahkan kami, jika menjadi generasi tanpa arah, karena memang selalu dibingungkan dengan sikapmu yang tak jelas. sebenarnya apa maumu?

"apa maumu, anak durhaka?!"

Cilegon 1997 - Malang 1999
Puisi Dialog Kebingungan
Puisi: Dialog Kebingungan
Karya: Nanang Suryadi

Baca Juga: Puisi Palestina Terbaru

Post A Comment:

0 comments: