Penjaga Rembulan di Pesisir
hidup – desis-Mu pada daun luruh, - hanya riak ombak yang terdampar di pesisir
pasir akan melukiskan telapak-telapak kakimu, jejak yang kelak akan dieja
anak-anakmu yang berlarian telanjang menciprat-cipratkan air garam ke langit
menjadi burung-burung camar yang paruhnya mematuki dinding-dinding kabut
meminta awan menggelembungkan kristal-kristal gerimis jadi manik-manik hujan
membasahi nyiur, menyiram lokan, merayu ikan-ikan untuk membentangkan sirip
membujuk kerang dan rumput laut untuk rebah di bawah sisa-sisa cahaya rembulan
- desis-MU -, inilah kenangan terindah yang sempat dicatat waktu dan dilukis cuaca
saat angin laut mengerucutkan palung, keringatmu yang segaram buih laut
menjelma surat wasiat, kitab untuk anak-anakmu yang kian tumbuh belajar riwayat
anak-anakmu kelak akan menggantikanmu menjadi penjaga rembulan pemburu mentari
lantas juga melukiskan telapak-telapak kakinya di pasir pesisir menciprat-cipratkan
air garam ke langit meminta hujan menaburkan kuncup-kuncup doa-doa bagi semesta.
Sumber: Qasidah Langit Qasidah Bumi (2023)
Puisi: Penjaga Rembulan di Pesisir
Karya: Tjahjono Widarmanto
Biodata Tjahjono Widarmanto:
- Tjahjono Widarmanto lahir pada tanggal 18 April 1969 di Ngawi, Jawa Timur, Indonesia.