Puisi: Dari Seorang Guru kepada Murid-Muridnya (Karya Hartojo Andangdjaja)

Puisi "Dari Seorang Guru kepada Murid-Muridnya" membuka pintu ke dalam hati seorang guru yang merenungkan peran dan tanggung jawabnya terhadap ....
Dari Seorang Guru kepada Murid-Muridnya


Apakah yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdian kepadamu.

Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidup di rumah tangga.

Ah, tentang ini aku tak pernah bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
-- horison yang selalu biru bagiku --
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua.


Sumber: Kumpulan Puisi (2019)

Analisis Puisi:
Puisi "Dari Seorang Guru kepada Murid-Muridnya" karya Hartojo Andangdjaja menciptakan gambaran tentang hubungan seorang guru dengan murid-muridnya.

Tema Pendidikan dan Tanggung Jawab Guru: Puisi ini mengusung tema utama tentang tanggung jawab seorang guru terhadap murid-muridnya. Guru ini mempertanyakan apa yang bisa dia berikan kepada murid-muridnya selain buku-buku dan sedikit ilmu. Tema ini menyoroti peran guru sebagai pembimbing dan penyampai pengetahuan kepada generasi muda.

Kekhawatiran dan Keterbukaan Guru: Guru dengan terbuka menyatakan kekhawatiran jika murid-muridnya datang ke rumahnya, karena ruangan tersebut menjadi saksi bisu tentang hidupnya, terutama dalam konteks rumah tangga. Hal ini mencerminkan kerendahan hati guru yang ingin menjaga image keguruan di hadapan murid-muridnya.

Hari Minggu sebagai Representasi Kehidupan Pribadi Guru: Puisi menyoroti keterkaitan antara guru dan murid di luar kelas, khususnya di hari Minggu. Hari ini dianggap sebagai momen di mana murid-murid dapat melihat sisi pribadi dan rumah tangga dari kehidupan guru.

Gambaran Fisik Ruangan dan Objek Rumah: Deskripsi kursi-kursi tua, meja tulis sederhana, dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya memberikan gambaran tentang keaslian dan kesederhanaan kehidupan guru. Objek-objek ini menjadi saksi bisu perjalanan hidup guru.

Pemahaman Guru terhadap Murid-Muridnya: Guru menyatakan bahwa di depan kelas, dia tidak pernah bercerita tentang hidupnya, karena dia tahu bahwa murid-muridnya masih terlalu muda dan bersih dari dosa untuk memahami. Ini menunjukkan perhatian dan pemahaman guru terhadap tingkat kematangan dan pemahaman murid-muridnya.

Gaya Bahasa Sederhana: Penyair menggunakan gaya bahasa yang sederhana dan lugas, menggambarkan kesederhanaan guru dan ruangannya. Hal ini menciptakan nuansa kedekatan dan keakraban dalam hubungan antara guru dan murid.

Puisi "Dari Seorang Guru kepada Murid-Muridnya" membuka pintu ke dalam hati seorang guru yang merenungkan peran dan tanggung jawabnya terhadap murid-muridnya. Dengan kejujuran dan kepedulian terhadap murid-muridnya, puisi ini menciptakan gambaran tentang hubungan yang erat di luar dinding kelas.

Puisi Hartojo Andangdjaja
Puisi: Dari Seorang Guru kepada Murid-Muridnya
Karya: Hartojo Andangdjaja

Biodata Hartojo Andangdjaja:
  • Edjaan Tempo Doeloe: Hartojo Andangdjaja.
  • Ejaan yang Disempurnakan: Hartoyo Andangjaya.
  • Hartojo Andangdjaja lahir pada tanggal 4 Juli 1930 di Solo, Jawa Tengah.
  • Hartojo Andangdjaja meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 1990 (pada umur 60 tahun) di Solo, Jawa Tengah.
  • Hartojo Andangdjaja adalah salah satu Sastrawan Angkatan '66.