Puisi: Di Penyeberangan (Karya Leon Agusta)

Di Penyeberangan

(1)

Inilah saatnya!
Dalam tumpah hujan dan petir sambar menyambar
Kita harus menyeberangi mulut sungai yang menganga
di hadapan kita ini. Lihat dan dengarkan. Suara sungai itu meng-
ancam, gemuruh melintasi batu-batu seperti  ia sedang  melalap
mangsanya sampai habis dengan tulang-tulangnya. Hutan di
belakang kita sudah kita bakar; asapnya masih mengepul
menghitamkan udara
Ayoh!
Lepaskan segala jubah dan pakaian kebesaran celaka
biarkan hanyut dalam laju banjir buat pesta buaya-buaya
yang menunggu di muara dengan lapar haus darah
Tongkat kita bukan dari Musa. Kita juga tak punya perahu
Nuh.

Kita tak punya sesuatu yang membawa mukjizat
Seharusnya kita sudah menyeberang sejak dulu; seperti
orang lain ketika betemu hulu sungai yang jernih; ketika masih
ada waktu membuat rakit. Kini sudah terlambat.

Masihkah kita bisa berdoa?

Kita sudah mengembara jauh sekali untuk mengelakkan
tempat ini. Kenapa kita bisa sampai di sini? Oh, Tuhan!

Pengikut-pengikut kita sudah mulai memuntahkan sumpah
dan kutukannya. Gelora banjir membongkar keberaniannya
hingga jadi haus darah. Kegilaan ini sungguh mustahil. Mereka
siap melemparkan kita.

Lidah banjir menjilat-jilat bibir sungai seperti ular bersiap
sebelum menerkam. Di atas kepala burung-burung pemakan
bangkai mengepakkan sayapnya mencari mangsa. Suaranya
melengking-lengking menunggu waktu untuk berpesta.

(2)

Aneh!
Kenapa tiba-tiba teriakan mereka terasa sebagai sesuatu
yang benar? Tapi mengerikan, oh Tuhan. Alangkah enaknya
bila tak punya pengikut. Kenapa aku tak menjadi manusia biasa
saja? Kenapa tak Kau ciptakan aku jadi air saja, atau angin,
atau cahaya?

Kini aku harus menyeberangkan mereka semua. Tapi me-
reka hanya percaya akan bisa selamat bila darahku ditumpahkan
ke dalam banjir gila ini sebagai persembahan upacara yang
mereka ciptakan sendiri untuk memusnahkan kekuasaanku.

Tak pernah aku berikan ajaran sedemikian
Ini kegilaan nasib semata-mata. Mereka keliru menafsirkan
keinginannya. Kini mereka mulai menuduhku, takbur dan
pongah, ganas dan pengecut. Padahal, akulah yang lahir seba-
gai penakluk gurun dan padang, semenanjung dan lautan, bahkan
jagat raya
Mereka adalah umat yang taat, Tuhan. Dan kepadaku
mereka teramat penurut. Juga waktu melintasi padang-padang
luas, merangkaki rimba belantara dan gurun tandus tak ada batas.

Bagaimana aku bisa salah membaca peta?

Kini aku sampai ke tempat yang berlawanan dengan tujuanku
lantas pengikut-pengikutku jadi gila, buas tak kenal ampun
dan aku tak tahu bagaiamana menjinakkan mereka.

Mulutku sudah bisu.

Gerak tanganku tak lagi mereka mengerti.

Mereka memaksaku tetap paling depan seperti sediakala.

Meskipun aku ingin mengajak kembali saja ke pangkal jalan
tempat aku sudah tersesat. Tapi mereka terus mendorongku.

Mereka ingin melihat aku mati menurut cara mereka,
untuk menghinakan kehormatan hidup dan matiku.

Angin dini sudah menjemputku, dan kepak sayap gagak
pemakan bangkai terasa dingin di pundakku.

Takkan kulihat lagi subuh berikutnya.

(3)

“Siapa yang membawa kita ke tempat ini, harus menjadi
orang yang pertama menyeberangi sungai ini.”
“Hanya mayatnya  yang dapat menghentikan banjir ini.”
“Inilah waktu kutukan baginya.”
“Ia takbur seperti nabi palsu.”
“Ia pongah dalam diam, kejam dalam kebijaksanaan.”
“Ia hidup dari kemunafikan dan harus mati untuk itu.”
“Ia si dungu fanatik, membuat diri jadi berhala.”
“Ia penyembah roh jahat, nenek moyang perampok sejati.”
Kafilah pengembara itu tak dapat dibendung lagi.

Mereka bergerak arah ke pinggir sungai.

Di barisan paling depan terdengar hiruk-pikuk, gaduh seperti
kerasukan. Tapi hanya sesaat.

Sehabis satu lengking pekikan yang mengerikan
mereka semua diam. Senyap seketika itu juga.

Orang yang paling depan itu sudah mereka lemparkan.

Upacara sudah melewati puncaknya
Fajar pun bangkit melepas kepergiannya.

Begitulah, banjir reda subuh itu pula.
Kafilah pengembara itu sudah teramat lelah
Merekapun tidur panjang sepulas-pulasnya
Ketika mereka bangun, bertahun-tahun sudah berlalu
Mereka sudah lupa penyeberangan yang harus mereka lintasi
Mereka meneruskan pengembaraan dengan peta buatan mereka
ke arah yang dulu mereka tinggalkan. Malam demi malam berlalu;
lewat dalam keasyikan sambil mabuk tak pernah henti.

Sesekali mereka terlibat dalam pertengkaran-pertengkaran kecil.
Dan mereka mulai menyusun berisan masing-masing seperti
dulu ketika mereka masih harus melakukan perjalanan jauh
yang akhirnya membawa mereka ke pinggir sungai itu.

Tampaknya mereka semakin asyik membenahi barisan
masing-masing dan tak sadar kalau  semakin jauh tersesat
Atau barangkali mereka memang tak pernah punya tujuan
kecuali semata nasib untuk bersama-sama mengembara.

1979
Puisi: Di Penyeberangan
Puisi: Di Penyeberangan
Karya: Leon Agusta


Catatan:
  • Leon Agusta lahir di Sigiran, Nagari Tanjung Sani Maninjau, Sumatra Barat, 5 Agustus 1938.
  • Leon Agusta meninggal dunia di Kota Padang, 10 Desember 2015 (pada umur 77 tahun).

Baca juga: Puisi Galau
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar