Pidato Menjelang Perang

Mereka telah menunggu di atas karang itu
kuda-kuda yang berdiri, pedang-pedang berkilatan
langit barat dan awan diam
terbakar mentari yang hampir terbenam.

- kita segera tinggalkan tempat ini
menempuh daerah yang belum kita kenali
Lihatlah di punggung kita perbukitan
karang terjal dan tebing curam
di depan kita hutan belukar yang maha lebat
dan musuh miliki kekuatan berpuluh lipat
telah mengintai dari segenap penjuru
Singsingkanlah lengan dan teguhkanlah iman
tajamkanlah telinga dan tajamkanlah mata
Kita serang musuh kita
bagai badak yang terluka.

Suara itu membelah sepi
laksana gelombang lautan yang maha dahsyat
memukul ke dasar hati
bangkitkan kekuatan dan semangat
butir darah melonjak, bulu kuduk berdiri
- Hadapilah musuh yang menghadapkan mukanya
kepada kita
Kita berperang secara jantan
melawan musuh yang memperkosa kebenaran
melawan musuh yang memperkosa kemerdekaan
dan menghalau musuh yang menjajah bumi kita
Kita berperang secara kesatria
dan bukan pengecut
dan bukan sebagai pengkhianat.

Sejenak. panglima itu berhenti bicara
wajahnya keras dan matanya tajam
menyinarkan kemauan yang kuat.

- Bunuhlah musuh yang mengancam jiwa
Tuhan menghalalkan sikap kita
tapi jangan diperlakukan secara dendam
dan di luar batas kemanusiaan
kerna ini bukanlah sifat kesatria
Terimalah dengan baik musuh yang menyerah
dan perlakukanlah tawanan itu penuh sopan

Hormatilah wanita dan orangtua renta
mereka yang lemah dan tak berdaya
jangan timbulkan keonaran dan merampas miliknya
berlakulah sebagai bunga bangsa
yang jadi impian leluhur kita
Biarkanlah anak-anak yang belum dewasa
kerna mereka bukanlah musuh kita
mereka adalah tunas-tunas masa depan
Kita harus bertindak secara bijaksana
jangan dibumihanguskan tanaman-tanaman
dan hewan ternak yang tak punya dosa
biarkan padi di sawah dan lembu pada tempatnya
Jangan diganggu rumah-rumah peribadatan
ulama di masjid, pendeta di gereja dan suster di biara
jangan diganggu rumah yatim dan rumah sakit
pelayan dan tabib-tabib yang melakukan tugasnya
Berlakulah secara kesatria
sebagai leluhur kita telah memberi contohnya
Jagalah diri anda dalam setiap pertempuran
ingatlah dan tolonglah kawan sejawat
dalam kesulitan dan penderitaan
yakinlah kita berjuang di dalam kebenaran
membela tanah dan rakyat yang tertindas
Tuhan akan bersama kita
dan merah-mati tekad ini.

Sejenak. Panglima itu berhenti bicara
menarik napas dan mengusap jidatnya
dengan tangannya yang berwarna tembaga
Sementara mereka menunggu
semangat telah membakar tubuhnya.

Puisi: Pidato Menjelang Perang
Puisi: Pidato Menjelang Perang
Karya: M. Saribi Afn

Catatan:
  • Nama lengkap M. Saribi Afn adalah Mohammad Saribi Affandi.
  • M. Saribi Afn lahir di Ngawonggo, Klaten, pada tanggal 15 Desember 1936.
Baca juga: Sajak karya Sugiarta Sriwibawa

Post A Comment:

0 comments: