Puisi: Debur Ombak Itulah (Karya L.K. Ara)

Debur Ombak Itulah

Debur ombak itulah
yang memanggil-manggil
hingga kami menjejakkan kaki ke tempat ini
pada suatu petang yang tenang
menyelusuri jalan yang membentang
dari jalan beraspal hingga jalan bebatuan
hingga ke pinggir lautan

tiba di pintu gerbang yang terbuka
dan leluasa memandang selat Melaka
terbayang kapal-kapal perang siap siaga
dengan 2000 para janda
prajurit yang terlatih dan setia
membela tanah pusaka
dari serangan Portugis dan Belanda

batu-batu benteng masih berdiri
meski kurang terpelihara
lubang-lubang pengintaian
masih terbuka ke arah lautan
tempat musuh datang menyerang
dan kami menyaksikan itu
setelah lebih 500 tahun berlalu
pada saat akar telah menjalar membesar
melilit benteng batu
pada saat lumut menebal
menempel benteng batu
kini kami rindu pada keperkasaanmu
wahai laksamana pertama di dunia
kini kami kehilangan
rasa kepahlawanan
rasa pengabdian
rasa kesetiaan
karena lebih memuja kemewahan
harta benda, pangkat dan kekuasaan

debur ombak itulah
yang setia mengabdi
sepanjang sejarah dari dulu hingga kini
yang terus berdebur dalam diri
hingga kami tak kan melupakannmu Laksama Malahayati.

Banda Aceh, 11/1/2012
Puisi: Debur Ombak Itulah
Puisi: Debur Ombak Itulah
Karya: L.K. Ara

Catatan:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.

Baca juga: Puisi tentang Kita
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar