Jangan Biarkan Aku Kelu
Telanjanglah depanku
O engkau yang ada
Ataukah engkau Tiada?
Antara wajah engkaukah itu
menatap?
Antara bunyi suaramukah itu
mendenting?
Antara kelam engkaukah itu
membayang?
Haruskah percaya nyawa -
semata karena udara masih keluar
masuk hidung kita?
Haruskah percaya mata —
semata karena melihat cahaya menembus
kaca jendela?
Haruskah percaya yang ada —
semata karena ia bisa diraba, padahal
ia pernah tak ada, dan akan kembali
tak ada?
O beri aku satu dan kubuangkan semua
Beri aku selalu dan biarkan
aku mendebu
Jaga aku
jangan biarkan aku kelu