Ratu Selatan
Sendiri menunggu kegelapan pantai selatan
perempuan laut, lelah batinmu bersampan
lupa tubuhmu tatahan kulit wayang
berbekal sesaji melonjak bintang-bintang
maka jadilah kau Bintang. Maharani perlambang
kerdip sunyi kunang-kunang di batu karang
Meniti liat ligatnya lidah lelaki
kau Pesona. Tembang sejati, smaradahana
timangan jiwa Sang Dyah Pitaloka
yang haus seloka serta lilit kata pujangga
yang menembus pusar lelaki
dan bersemayam di jantungnya
dan yang pupus porak-poranda
di tangan ksatria Mada
Berderap di atas kereta kuda
dikawal tetabuhan tak kasat mata
menjaga bukit lembah tanah Jawa
engkaulah Sang Ratu. Mawar dupa menyambutmu
di setiap pintu. Namun puteri
jangan takuti anak-anak kami
sepulang mengaji mulut mereka sangatlah wangi
di lidahnya masih bergayut tuah shalawat Nabi
1979
Sumber: Dunia Semata Wayang (2005)
