Jam Mati
Jam dinding di ruang kelas kami mati
Jarum detiknya bergetar begitu-begitu saja
Dua jarum yang lain tidak bergerak sama sekali
Jam dinding di ruang kelas kami mati
Nadi-nadi dalam jarum jam kering-mengering
Tak ada darah yang mengalir di sana dan
Tak ada sepi yang tersembunyi
Konon, jam itu mati karna kami
Ia setia mencintai kami
Kami membunuh cintanya secara tiba-tiba
Jam di kelas kami
Jam yang mati
Cintanya suci dan
Abadi.
2023
Analisis Puisi:
Puisi "Jam Mati" karya Risky Agato menggambarkan sebuah metafora yang menarik terkait dengan keheningan dan kehampaan yang terjadi pada sebuah jam dinding di ruang kelas. Puisi ini bukan hanya sekadar deskripsi fisik dari jam yang berhenti berfungsi, tetapi juga membawa makna yang lebih dalam tentang waktu, kehidupan, dan hubungan manusia dengan benda-benda di sekitarnya.
Simbolisme Jam Dinding: Jam dinding yang mati menjadi pusat dari puisi ini. Jam di kelas yang tidak berfungsi bukan hanya sebuah objek mati, tetapi merupakan simbol dari sesuatu yang telah kehilangan kehidupan, kecintaan, dan arti. Pemilihan jam sebagai objek sentral memberi kesan bahwa ada sesuatu yang berhenti bergerak atau kehilangan makna dalam kehidupan. Jarum-jarum yang terdapat di jam, yang seharusnya mengukur waktu dan pergerakan kehidupan, kini tidak berfungsi sama sekali. Gambaran ini menggambarkan stagnasi, kehampaan, dan keheningan yang mendalam.
Metafora Kehidupan dan Hubungan Manusia: Puisi ini memberikan teka-teki tentang hubungan antara manusia dan benda mati. Jam yang diibaratkan mati seakan-akan memiliki kesetiaan dan cinta kepada orang-orang di sekitarnya, dan kemudian kesetiaan tersebut dihancurkan oleh tindakan yang dilakukan oleh "kami." Hal ini mengundang pertanyaan tentang bagaimana kita, sebagai manusia, dapat merusak atau menghancurkan hubungan atau kehidupan bahkan dengan benda mati sekalipun.
Tafsir Simbolis: Keheningan dan kehampaan yang disajikan dalam puisi ini dapat diartikan sebagai metafora tentang kekosongan atau kehilangan yang terjadi dalam hubungan manusia, kesetiaan yang terabaikan, atau kehampaan dalam arti waktu dan eksistensi. Pemilihan kata-kata seperti "nadi-nadi dalam jarum jam kering-mengering" memberikan kesan kehilangan vitalitas, yang bisa saja mencerminkan kehilangan nilai dan makna dalam suatu hubungan.
Puisi "Jam Mati" menghadirkan gambaran tentang stagnasi, keheningan, dan kehampaan dalam kehidupan manusia, melalui gambaran jam dinding yang berhenti bergerak. Dalam karyanya, Risky Agato berhasil membangkitkan refleksi tentang bagaimana kita sebagai manusia dapat memengaruhi atau merusak bahkan hubungan dengan benda mati sekalipun. Makna mendalam dalam puisi ini mendorong pembaca untuk merenungkan arti dari keheningan, kekosongan, serta pentingnya kesetiaan dan hubungan dalam kehidupan sehari-hari.
Karya: Risky Agato
Biodata Risky Agato:
- Risky Agato (bernama lengkap Yulianus Risky Agato) adalah salah satu pelajar yang menggemari dunia sastra. Ia merupakan salah satu siswa SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuang Bajo. Pemuda kelahiran 9 Januari ini bercita-cita menjadi pemuda yang tidak biasa-biasa saja.
