Puisi: Menabur Pasir (Karya Mariana Lewier)

Puisi "Menabur Pasir" menggabungkan keindahan alam, sejarah lokal, dan perubahan sosial. Melalui penggunaan bahasa yang indah dan ....
Menabur Pasir


Pada setiap jejak embun yang menetes
dari daun-daun sagu di rawa-rawa
pada deretan pepohonan cengkeh
di bukit-bukit keletihan ...
pada bentang pantai
yang menimbun jejak peziarah
aku menabur pasir
di sepanjang garis batas penantian
dan menyaksikan jatuhnya
bagai ukiran butir kisah berabad lain
penggalan tuturan para tetua negeri
yang menyimpan haru di dada

Sejak semula segala menanti
dan rentangan waktu membaluti
langit yang meraih mentari
di balik paparisa tua milik para datuk
yang menyulam sejarah Negeri Seribu Pulau
dengan dendang kapata dan untaian lania
menghidupi soa demi soa beralas sumpah persaudaraan
Namun, kini terkikis ombak
mengurai kelembutan pasir putih nurani

Para lelaki bak pengintai di musim peralihan ini
generasi yang tak lagi mengusung parang salawaku
lereng-lereng bukit pala telah ditinggalkan kepada penjaga hutan
beradu nasib menancap rasio
di atas perahu berlayarkan ambisi
dan para wanita telah berubah menjadi pemetik hari yang berlari
melesapkan damba
yang terkubur di semenanjung sunyi
karena tak ada lagi perahu nelayan
berpelita di malam hari
namun, aku tetap menabur pasir
mengisi kekosongan pantai-pantai yang setia menunggu
kembalinya para pemilik negeri

Ambon, 2012

Sumber: Biarkan Katong Bakalae (2013)

Analisis Puisi:
Puisi "Menabur Pasir" karya Mariana Lewier adalah sebuah karya yang memikat, merangkai gambaran alam dan sejarah dengan keberadaan manusia dalam perjalanan waktu.

Simbolisme Pasir Sebagai Metafora Waktu dan Sejarah: Puisi ini membawa pembaca ke dalam perenungan tentang waktu dan sejarah dengan penggunaan simbol pasir. Tindakan menabur pasir menciptakan gambaran tentang perjalanan waktu yang tak terelakkan dan sejarah yang berlipat-lipat. Butiran pasir menjadi saksi bisu dari jejak-jejak peziarah dan kisah-kisah berabad yang menjadi bagian dari sejarah.

Alam dan Keindahan Lokal: Penyair memilih elemen alam, seperti embun, sagu, pepohonan cengkeh, dan pantai, untuk menciptakan gambaran yang kaya dan mendalam tentang keindahan lokal. Penggunaan gambar-gambar alam ini tidak hanya menghidupkan puisi tetapi juga memberikan nuansa autentik dan khas dari lingkungan Negeri Seribu Pulau.

Hubungan Antara Alam dan Manusia: Puisi ini merangkai hubungan antara alam dan manusia dengan indah. Pembaca disuguhkan dengan gambaran alam yang berpadu harmonis dengan perjalanan sejarah dan kehidupan manusia. "Jatuhnya bagai ukiran butir kisah berabad lain" menyiratkan keberadaan manusia yang tak terpisahkan dari alam dan sejarah.

Transformasi dan Perubahan Sosial: Puisi menggambarkan perubahan dalam masyarakat seiring berjalannya waktu. Generasi yang tak lagi mengusung parang salawaku dan lereng bukit pala yang ditinggalkan mencerminkan transformasi dalam kehidupan dan nilai-nilai tradisional. Perubahan ini diwakili oleh gambaran para lelaki yang berlayar dengan ambisi dan wanita yang menjadi pemetik hari yang berlari.

Kesedihan dan Keinginan untuk Kembali ke Akar Budaya: Ombak yang terkikis mengurai kelembutan pasir putih nurani menciptakan nuansa kesedihan dan kehilangan. Namun, tindakan penyair yang tetap menabur pasir, mengisi kekosongan pantai yang menunggu, mencerminkan keinginan untuk melestarikan dan menghidupkan kembali akar budaya dan sejarah yang mungkin terkikis oleh perubahan zaman.

Keteguhan Identitas dan Harapan: Meskipun perubahan sosial dan alam yang dijelaskan dalam puisi, tindakan menabur pasir oleh penyair menunjukkan keteguhan identitas dan harapan. Puisi ini mengekspresikan kerinduan akan kembalinya para pemilik negeri dan upaya penyair untuk tetap terhubung dengan akar budaya dan sejarah Negeri Seribu Pulau.

Puisi "Menabur Pasir" adalah sebuah puisi yang kaya dengan simbolisme, menggabungkan keindahan alam, sejarah lokal, dan perubahan sosial. Melalui penggunaan bahasa yang indah dan imajinatif, Mariana Lewier berhasil menciptakan karya yang mengajak pembaca untuk merenung tentang hubungan manusia dengan alam, sejarah, dan keinginan untuk melestarikan identitas budaya.

Mariana Lewier
Puisi: Menabur Pasir
Karya: Mariana Lewier

Biodata Mariana Lewier:
  • Mariana Lewier lahir pada tanggal 14 Februari 1971 di Ambon.
© Sepenuhnya. All rights reserved.