Tangan Waktu
Tanpa disadari.
Tangan waktu begitu lihai memoles hidup kita
yang sebelumnya merangkak di pangkuan ibu,
telah berlari mengejar kefanaan dunia.
Meski tak saling berjabat tangan,
ia menyentuh kita dengan menit yang berputar-putar
bermain seperti teman
seperti dirimu saat kita duduk bersama
di tepi pantai
Dengan lembut, waktu memeluk
dalam kesunyian malamnya
hingga kita tertidur,
bersama mimpi yang berbintang-bintang.
Lalu ia kembali membangunkan
dengan lambaian sinar di pagi hari
layaknya senyuman ibu
yang mencintai kita selalu
Tapi, esok yang entah
tangan waktu itu
meluruhkan daun-daun usia kita
hingga mata tak lagi bisa
menghitung detak menitnya.
"Tak ada yang bisa menggenggam waktu"
katamu berulang-ulang
Sarjo, 29 November 2023
Analisis Puisi:
Puisi "Tangan Waktu" karya Lidia menggambarkan perjalanan hidup manusia dan hubungannya dengan konsep waktu. Melalui metafora tangan waktu, penyair menciptakan gambaran kehidupan yang puitis.
Tanpa Disadari: Pembukaan puisi menggambarkan kehadiran waktu yang seringkali tidak disadari oleh manusia. Ini menciptakan kesan bahwa waktu adalah kekuatan yang konstan dan tak terelakkan.
Tangan Waktu Begitu Lihai: Pemilihan kata "lihai" memberikan karakter pada waktu, seolah waktu memiliki kecerdikan dan kebijaksanaan dalam memengaruhi kehidupan manusia.
Mengejar Kefanaan Dunia: Perpindahan dari fase kehidupan anak ke dewasa diibaratkan sebagai "berlari mengejar kefanaan dunia." Hal ini mencerminkan sifat sementara dan fana dari dunia.
Menyentuh dengan Menit yang Berputar: Gambaran tangan waktu yang "menyentuh kita dengan menit yang berputar" menyoroti perubahan-perubahan kecil dalam hidup yang terjadi seiring berjalannya waktu.
Lambaian Sinar di Pagi Hari: Sinar pagi hari diibaratkan sebagai lambaian tangan waktu yang membangunkan kita dari tidur. Ini merujuk pada siklus kehidupan yang terus berlanjut.
Esok yang Entah: Kata-kata ini merujuk pada ketidakpastian masa depan dan ketidakmampuan manusia untuk mengontrol atau memprediksi nasib mereka.
Meluruhkan Daun-Daun Usia: Metafora daun-daun usia yang luruh menggambarkan penuaan dan kematangan, serta realitas bahwa waktu terus berjalan tanpa dapat dihentikan.
"Tak Ada yang Bisa Menggenggam Waktu": Pernyataan ini menegaskan bahwa manusia tidak memiliki kendali atas waktu. Waktu adalah entitas yang bekerja sendiri dan tak terkendali.
Puisi "Tangan Waktu" menciptakan citra yang indah dan puitis mengenai perjalanan hidup, pengaruh waktu, dan kompleksitas hubungan manusia dengan keberlangsungan waktu. Lidia menggunakan bahasa yang kaya dan imaji yang kuat untuk menyampaikan pesan filosofis tentang eksistensi manusia dalam aliran waktu yang terus bergerak.
Karya: Lidia
Biodata Lidia:
- Lidia lahir di Donggala, Sulawesi Tengah. Ia suka menulis puisi dan cerpen.
- Lidia adalah anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Sulawesi Selatan dan COMPETER Indonesia.
- Puisi-puisinya dimuat di berbagai media online dan offline.
