Kalau Roboh Kota Melaka
kalau roboh kota melaka
papan di jawa kami tegakkan
tapi hutan-hutan
yang segera melebat di dalam dongeng
tak buat teduh cinta kami kepadanya
bahkan kayu-kayan
yang membesar di tengah cerita
menutup kisah untuk bersama
kalau roboh kota melaka
papan di jawa kami tegakkan
tapi hutan-hutan
yang segera membuncah di dalam ingatan
tak bentangkan sayang kami kepadanya
bahkan lahan-lahan
yang meluas di tengah kenangan
menolak impian untuk bersama
kini kami tegakkan papan itu di awan
pada gerak yang tak lagi dianggap berkhianat
setidak-tidaknya kami selalu waspada
bahwa perubahanlah yang paling abadi
menghantar semesta ke batas-batas langit
bergumpal dengan kesejukan meninggi
menderukan hujan di tengah panas
kaki kami akan terpacak ke lembah-lembah
dengan langkah membesar ke bukit-bukit
mata kami melautkan gelora sukma
melantunkan doa-doa sayap
pada setiap jasad yang mengucap ungkap
rupanya kita hanya bisa saling memandang
itu pun kami ragukan mata kalian yang membayang
usia telah mengaburkan penglihatan
jauh dan dekat kehilangan sasaran
Sumber: Tersebab Aku Melayu (Buku Sajak Penggal Kedua, 2010)
Analisis Puisi:
Puisi: "Kalau Roboh Kota Melaka" karya Taufik Ikram Jamil menyajikan gambaran yang dalam tentang perubahan, kehilangan, dan refleksi terhadap hubungan manusia dengan lingkungan serta masa lalu mereka.
Simbolisme Kota Melaka: Kota Melaka digunakan sebagai simbol yang melambangkan sejarah, kenangan, dan identitas. Robohnya kota tersebut mencerminkan perubahan yang tidak terhindarkan dan keretakan dalam hubungan manusia dengan warisan budaya mereka.
Kontras antara Jawa dan Melaka: Kontras antara papan yang ditegakkan di Jawa dengan kehancuran Kota Melaka menyoroti perbedaan dalam persepsi dan prioritas masyarakat terhadap warisan budaya mereka. Ini mencerminkan perjuangan antara mempertahankan tradisi dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Gambaran Alam dan Kenangan: Penggambaran hutan-hutan yang melebat dan lahan yang meluas menciptakan citra alam yang kuat. Kenangan tentang Melaka, meskipun melahirkan perasaan sayang, juga membawa rasa sakit dan kehilangan.
Pesan tentang Perubahan: Puisi ini menyoroti perubahan sebagai satu-satunya konstan dalam kehidupan. Meskipun perubahan dapat membawa kesedihan dan kehilangan, juga memberikan kesempatan untuk pertumbuhan dan adaptasi.
Refleksi tentang Masa Depan: Puisi ini menggambarkan perjalanan spiritual dan refleksi pribadi tentang makna hidup, perubahan, dan kesadaran akan kehancuran. Hal ini terwujud dalam gambaran tentang kaki yang "terpacak ke lembah-lembah" dan "mata yang melautkan gelora sukma."
Keterbatasan Manusia: Dalam kesimpulan puisi, pengakuan tentang keraguan dan ketidakpastian menyoroti keterbatasan manusia dalam memahami dan merasakan kehidupan serta hubungan antarmanusia.
Puisi "Kalau Roboh Kota Melaka" menggambarkan dinamika perubahan, kehilangan, dan refleksi pribadi dengan gaya yang indah dan penuh makna. Melalui gambaran tentang Kota Melaka yang roboh, Taufik Ikram Jamil mengajak pembaca untuk merenung tentang nilai-nilai warisan budaya, identitas, dan arti perubahan dalam kehidupan manusia.
Karya: Taufik Ikram Jamil
Biodata Taufik Ikram Jamil:
- Taufik Ikram Jamil lahir pada tanggal 19 September 1963 di Bengkalis, Riau, Indonesia.
