Puisi: Bapak dan Perajang Daun (Karya Oka Rusmini)

Puisi "Bapak dan Perajang Daun" mengingatkan kita bahwa kehidupan adalah sebuah pertunjukan yang penuh dengan pementasan-pementasan, di mana setiap ..
Bapak dan Perajang Daun

seperti kataku dulu
aku tidak tahu kenapa jadi anakmu
aku masih terlalu muda untuk memilih sebuah jawaban

keberanian garis lahir
telah tumpah dari dunianya
menyediakan cawan pembentukanku lebih tegas
aku mencintai masa kanak-kanakku

kau sering berteriak pada bentuk hidup itu
katamu:
wahai perajang daun
yang disiapkan alam meneteskan tangkai roh
mainkan pementasan untukku

mpara perajang daun tertawa
tawa kejujuran kanak-kanak
yang dimandikan dunianya
kami selalu sibuk merajang beragam daun

yang kami curi dari halaman rumah jenderal, kapten, letnan
dan pak catam

kemudaan daun itu
menggetarkan selera kanak-kanak kami

katamu lagi:
aku melihat bentuk hidup baru
di tengah perajang daun
aku ingin jatuh dan berada di dalamnya

para perajang daun tertawa
aku menutup mulutku dengan jari-jari kecilku
kataku dalam hati:
gigiku paling depan tanggal tadi pagi
aku tidak mau perajang daun menamakan aku nenek ompong

para perajang daun mencubit lenganku
kaurasakan seperti tarikan urat kematian
yang melubangi rangkaian kejantanan bentuk laki-lakimu
kau merasa tetap seperti kanak-kanak
para perajang daun tetap tertawa
gigiku masih di genteng
tadi pagi ibu melemparnya

aku ikut tertawa
sambil menutup mulutku
aku ompong

waktu mengupas wujud para perajang daun
aku rangkai kembali setiap kenangan kecil itu
yang sering merusak kebun ibu-ibu

ketika kulihat kau mulai bernanah
dan takut pada hidup
aku paham aku kehilangan wujud lelakimu

1992

Sumber: Warna Kita (2007)

Analisis Puisi:

Puisi "Bapak dan Perajang Daun" karya Oka Rusmini adalah sebuah karya yang penuh dengan simbolisme dan imajinasi. Melalui puisi ini, Rusmini menyentuh tema-tema yang sangat dalam tentang kehidupan, hubungan ayah dan anak, serta proses pertumbuhan. Dalam rangkaian kata-kata yang penuh makna, Rusmini mengajak pembaca untuk merenung tentang arti keberanian, kematian, dan peralihan dalam kehidupan manusia.

Kehidupan yang Tidak Dapat Dipilih: Menggali Makna Pilihan Hidup

Puisi ini dimulai dengan sebuah pengakuan yang jujur dari si pembicara yang merasa tidak dapat memilih untuk menjadi anak dari sosok yang bernama "Bapak." Ada kesan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang terjadi begitu saja, tanpa adanya kemampuan untuk memilih:

"seperti kataku dulu / aku tidak tahu kenapa jadi anakmu / aku masih terlalu muda untuk memilih sebuah jawaban"

Di sini, Oka Rusmini menggambarkan bahwa si anak, yang masih muda dan tidak mengerti banyak tentang hidup, tidak memiliki kekuatan untuk memilih peran atau jalan hidupnya. Seperti halnya kita yang lahir ke dunia tanpa memilih siapa orang tua kita, atau bagaimana kehidupan kita akan terbentuk. Dalam konteks ini, ada kekuatan tak terduga yang mengarahkan jalan hidup kita.

Namun, meskipun anak ini merasa tidak memiliki kendali, ada bagian dalam dirinya yang mulai menyadari pentingnya keberanian dan keputusan. Bagian ini berbicara tentang pembentukan diri yang lebih kuat dan lebih tegas seiring berjalannya waktu.

Perajang Daun: Simbol Kematangan dan Tanggung Jawab

Di bagian selanjutnya, puisi ini memperkenalkan simbol "perajang daun" yang menjadi salah satu elemen penting dalam hubungan antara si anak dan ayah. Bapak sering berteriak pada "perajang daun" yang disiapkan oleh alam untuk membentuk roh dan jiwa si anak. Ini menggambarkan bahwa kehidupan ini adalah sebuah pertunjukan yang sedang dimainkan, dengan peran-peran tertentu yang harus dijalani:

"katamu: / wahai perajang daun / yang disiapkan alam meneteskan tangkai roh / mainkan pementasan untukku"

Simbol "perajang daun" di sini bisa diinterpretasikan sebagai tugas atau tanggung jawab dalam kehidupan yang harus dijalani oleh setiap individu, terutama dalam konteks pertumbuhan. Daun yang disiapkan oleh alam sebagai simbol hidup, dengan tangkai roh yang mengarah ke pengertian atau pencerahan lebih lanjut, menggambarkan bahwa hidup ini penuh dengan pilihan-pilihan yang kadang tak terhindarkan.

Perajang daun juga mencerminkan dunia kanak-kanak yang penuh keceriaan dan kejujuran. Tawa dari para perajang daun adalah tawa dari ketulusan yang murni, suatu momen ketidakpedulian terhadap beratnya hidup. Momen ini memberi gambaran tentang kejujuran dan kesederhanaan yang dapat ditemukan dalam masa kanak-kanak.

Kehidupan yang Tumbuh: Proses Pertumbuhan dan Perubahan

Puisi ini juga menggambarkan bagaimana dunia anak-anak bertransformasi seiring bertambahnya usia. Ada bagian di mana anak merasa terpojok dengan pertanyaan tentang identitas dan perubahan tubuh. "Gigiku paling depan tanggal tadi pagi" mengindikasikan perubahan fisik yang terjadi pada si anak, seolah ada ketakutan terhadap kehilangan bentuk atau identitas yang lebih muda:

"kataku dalam hati: / gigiku paling depan tanggal tadi pagi / aku tidak mau perajang daun menamakan aku nenek ompong"

Penggunaan simbol gigiku yang "tanggal" mengisyaratkan bahwa anak tersebut sedang mengalami peralihan atau perubahan, yang mungkin berupa kehilangan masa kanak-kanak dan beralih menjadi dewasa. Ini adalah saat-saat yang membingungkan, di mana identitas mulai bergeser, dan seseorang mulai memahami bahwa waktu terus bergerak maju, meninggalkan kenangan masa kecil.

Kenangan dan Kematian: Refleksi terhadap Kehidupan yang Terus Berubah

Pada bagian terakhir, puisi ini mengarah pada refleksi yang lebih dalam tentang kehidupan, waktu, dan kematian. Proses "mengupas wujud" para perajang daun menggambarkan bagaimana kenangan-kenangan kecil sering kali mengubah cara kita melihat kehidupan, terutama saat kita mengalami peralihan dari masa muda ke masa yang lebih tua:

"waktu mengupas wujud para perajang daun / aku rangkai kembali setiap kenangan kecil itu / yang sering merusak kebun ibu-ibu"

Kenangan akan masa kanak-kanak sering kali muncul sebagai hal yang "merusak kebun ibu-ibu," yang mungkin merujuk pada kenangan yang mengganggu atau menantang kebiasaan dan rutinitas masa lalu. Namun, meskipun kenangan itu mungkin "merusak," ada pemahaman bahwa mereka adalah bagian dari proses pertumbuhan dan perubahan yang harus dilalui.

Saat si anak melihat bapaknya mulai "bernanah" dan "takut pada hidup," ada pengakuan tentang kehilangan sosok ayah yang kuat dan gagah. Bapak, yang dulu mungkin menjadi simbol kekuatan dan ketegasan, kini mulai kehilangan kekuatannya. Ini menggambarkan bahwa kehidupan selalu mengalami perubahan, dan pada akhirnya, kita semua akan mengalami kehilangan, baik itu dalam bentuk fisik atau emosional.

Puisi "Bapak dan Perajang Daun" karya Oka Rusmini adalah sebuah perjalanan reflektif tentang kehidupan, pertumbuhan, dan kematian. Melalui simbol-simbol yang kaya dan penuh makna, Rusmini menggambarkan perjalanan hidup yang tidak hanya dipenuhi dengan kenangan indah masa kanak-kanak, tetapi juga dengan perubahan dan kehilangan. Dalam peralihan dari masa kecil ke dewasa, kita sering kali harus menghadapi kenyataan bahwa waktu terus bergerak, mengubah segala sesuatu yang kita kenal.

Puisi ini mengingatkan kita bahwa kehidupan adalah sebuah pertunjukan yang penuh dengan pementasan-pementasan, di mana setiap individu harus memainkan perannya. Ketika kita tumbuh dan berubah, kita harus siap menghadapi kenyataan tentang identitas yang berubah, tentang kehilangan, dan tentang kematian yang pada akhirnya akan datang. Namun, dalam setiap proses tersebut, kita tetap dapat menemukan kejujuran, keceriaan, dan kebahagiaan, seperti tawa para perajang daun yang mencerminkan ketulusan dan keceriaan dalam hidup.

Oka Rusmini
Puisi: Bapak dan Perajang Daun
Karya: Oka Rusmini

Biodata Oka Rusmini:
  • Oka Rusmini lahir di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1967.
© Sepenuhnya. All rights reserved.