Sumber: Angkatan 66 (1968
Analisis Puisi:
Puisi "Bapak" karya Abdul Wahid Situmeang menyajikan kritik sosial dan satire terhadap seseorang yang melakukan perbuatan buruk. Melalui penggunaan metafora hewan, penyair menyindir perilaku tercela dan mengekspresikan ketidaksetujuan terhadap tindakan tersebut.
Metafora Hewan, Satire terhadap Perilaku Tercela: Penggunaan metafora hewan dalam puisi ini memiliki konotasi negatif terhadap perilaku si "bapak". Dengan menyamakan "bapak" dengan hewan, penyair memberikan sindiran terhadap tindakan buruk yang dilakukan oleh sosok tersebut.
Tidak Pantas Disandingkan dengan Hewan, Merendahkan Perilaku "Bapak": Di baris "tapi hewan bukan bapak, hewan kasih pada anak," penyair menyatakan bahwa "bapak" tidak pantas disandingkan dengan hewan karena hewan memberikan kasih sayang pada anaknya. Ini mengungkapkan rasa tidak puas penyair terhadap perilaku si "bapak" yang dianggap lebih rendah daripada hewan yang memiliki insting perlindungan terhadap keturunannya.
Sindiran atas Perbuatan Buruk, Kekecewaan dan Penolakan: Dengan meratapi "kemalangan" dan menerima perintah "diam" dari "bapak," penyair menyiratkan kekecewaan dan penolakan terhadap perbuatan buruk yang terjadi.
Pengulangan untuk Penegasan, Penguatan Kritik dan Ekspresi Tidak Puas: Pengulangan baris "Bapak jadi hewan, tapi hewan bukan bapak, hewan kasih pada anak" digunakan untuk memperkuat kritik penyair terhadap perilaku si "bapak" dan menegaskan rasa tidak puasnya.
Puisi "Bapak" merupakan puisi yang berfungsi sebagai bentuk protes dan ekspresi moral terhadap perilaku yang dianggap tercela. Dengan menggunakan metafora yang kuat, Abdul Wahid Situmeang berhasil menyampaikan kritik sosial dan menyuarakan ketidaksetujuan terhadap perbuatan buruk yang terjadi dalam masyarakat.
Puisi: Bapak
Karya: Abdul Wahid Situmeang
Biodata Abdul Wahid Situmeang:
- Abdul Wahid Situmeang lahir pada tanggal 22 Juni 1936 di Sibolga, Tapanuli Selatan.
- Abdul Wahid Situmeang adalah salah satu sastrawan angkatan 66.