Puisi: Diameter Cinta (Karya A. Muttaqin)

Puisi "Diameter Cinta" karya A. Muttaqin mengajak pembaca untuk melihat cinta dari perspektif yang lebih luas, melampaui batas-batas yang selama ...
Diameter Cinta

Aku mencintaimu, karena kerap kusesap susumu.
Kau yang tak bisa kusebut sebagai ibuku.
Kau yang tak bisa kusebut sebagai saudariku seibu.
Tapi, bukankah kau lebih dari itu?

Tidak. Tidak hanya kau.

Kepada semua sapi dan kambing di bumi
Aku juga menganggap mereka sebagai saudara.
Sebab siapa tahu, telah kucampurkan susu bundanya
Ke lipatan roti atau kental kopiku.

Tidak. Tidak hanya kepada sapi dan kambing itu.

Telah kuluaskan diameter cintaku
Kepada kawanan jin, begejil
Dan hantu-hantu
Sebab menurut nenekku
Satu dari kakek-canggahku
Pernah disusui jin penunggu kebun tebu.

Tidak. Tidak hanya kepada jin, begejil dan hantu-hantu.

Kugenapkan pula cinta dan seduluranku
Pada coro, tikus, cuwut, marmut
Trenggiling, kadal, bedindang
Gangsir, moring, kalajengking
Kalong, orong-orong
Dan beribu-ribu nyamuk itu.

Biarlah para nyamuk itu
Masih suka mencuri-curi darahku.

2016

Analisis Puisi:

Puisi "Diameter Cinta" karya A. Muttaqin mengajak pembaca untuk melihat cinta dari perspektif yang lebih luas, melampaui batas-batas yang selama ini kita kenal. Dalam puisi ini, cinta bukan hanya diperuntukkan untuk manusia, melainkan untuk semua makhluk hidup, baik yang terlihat maupun yang tak terlihat. Melalui baris-baris puisi yang kaya dengan simbolisme, Muttaqin menggambarkan cinta sebagai kekuatan universal yang mampu menghubungkan segala bentuk kehidupan, dari yang paling kecil hingga yang paling besar.

Mencintai Tanpa Batas

Pada awal puisi, penulis mengekspresikan cinta yang begitu mendalam, "Aku mencintaimu, karena kerap kusesap susumu. Kau yang tak bisa kusebut sebagai ibuku. Kau yang tak bisa kusebut sebagai saudariku seibu. Tapi, bukankah kau lebih dari itu?" Di sini, penulis menunjukkan bahwa cinta yang dirasakannya bukanlah cinta yang terbatas pada relasi darah atau hubungan kekeluargaan yang biasa. Cinta yang dimaksudkan di sini melampaui batasan tersebut dan bahkan berusaha melepaskan diri dari kategori yang umum diterima.

Namun, ini bukanlah cinta yang terbebani dengan aturan-aturan sosial atau bahkan budaya. Dalam pengertiannya, cinta ini bisa mencakup sesuatu yang lebih besar dan lebih dalam daripada hubungan biologis dan familial. Penulis bertanya, "Bukankah kau lebih dari itu?"—sebuah pertanyaan yang mengajak pembaca untuk berpikir lebih luas tentang konsep cinta itu sendiri.

Cinta yang Mencakup Semua Makhluk Hidup

Selanjutnya, penulis memperluas cakupan cintanya dengan menyebutkan, "Kepada semua sapi dan kambing di bumi Aku juga menganggap mereka sebagai saudara." Dalam bagian ini, kita melihat bagaimana penulis menggambarkan cinta yang tidak terbatas hanya pada manusia, tetapi juga pada hewan. Cinta yang begitu besar, bahkan mampu menyentuh kehidupan hewan yang sering kali dianggap hanya sebagai sumber pangan dan material. Penulis mengenal pentingnya peran sapi dan kambing, bukan hanya sebagai makhluk hidup, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung.

Pada kalimat "Sebab siapa tahu, telah kucampurkan susu bundanya Ke lipatan roti atau kental kopiku," penulis mengingatkan kita bahwa semua makhluk hidup saling berhubungan, bahkan dalam aspek yang paling sehari-hari sekalipun. Cinta, dalam pengertian ini, adalah kesadaran bahwa kita saling bergantung satu sama lain, dan saling memberi manfaat, meskipun sering kali kita tidak menyadarinya.

Cinta pada Makhluk Tak Tampak

Tidak hanya kepada hewan, penulis juga memperluas cinta kepada makhluk halus yang sering kali berada di luar jangkauan pandangan manusia. Dalam bagian berikutnya, "Telah kuluaskan diameter cintaku Kepada kawanan jin, begejil Dan hantu-hantu," penulis menambahkan dimensi lain yang tak biasa. Jin dan hantu-hantu, meskipun dalam banyak budaya dianggap sebagai makhluk yang menakutkan atau bahkan dianggap sebagai hal yang terpisah dari kehidupan sehari-hari manusia, justru dianggap sebagai bagian dari alam semesta yang layak untuk dicintai.

Salah satu alasan mengapa penulis memiliki pandangan seperti ini adalah karena neneknya pernah menceritakan, "Satu dari kakek-canggahku Pernah disusui jin penunggu kebun tebu." Dari sini, kita bisa melihat bagaimana penulis menyinggung legenda dan mitos yang ada dalam tradisi, serta bagaimana budaya dan cerita rakyat bisa memberikan pengertian baru tentang relasi kita dengan makhluk tak kasat mata. Cinta kepada jin dan hantu-hantu bukanlah hal yang aneh atau menakutkan, melainkan sebuah cara untuk merangkul semua elemen alam semesta, tanpa terkecuali.

Cinta yang Terus Meluas

Puisi ini semakin meluas dengan mencakup lebih banyak makhluk hidup yang sering dianggap kecil dan tidak penting. "Kugenapkan pula cinta dan seduluranku Pada coro, tikus, cuwut, marmut Trenggiling, kadal, bedindang Gangsir, moring, kalajengking Kalong, orong-orong Dan beribu-ribu nyamuk itu." Penulis menyebutkan berbagai jenis hewan, baik yang kecil maupun yang besar, sebagai bagian dari lingkup cinta yang lebih luas. Cinta yang dimaksudkan di sini adalah cinta tanpa syarat kepada setiap makhluk hidup, dari yang paling besar hingga yang paling kecil.

Di sini, penulis juga menggambarkan bahwa dalam cinta yang demikian luas, bahkan hewan yang dianggap "gangguan" seperti nyamuk pun memiliki tempat. Meskipun nyamuk seringkali mengganggu dan mencuri darah, penulis tidak membiarkan kebencian atau rasa tidak suka menghalangi cintanya. Dalam dunia yang penuh dengan ketidaksempurnaan ini, penulis menunjukkan bahwa segala sesuatu, bahkan yang dianggap mengganggu sekalipun, tetap pantas untuk diberi tempat dalam cinta yang tulus dan tanpa batas.

Cinta sebagai Kekuatan yang Menghubungkan

Puisi "Diameter Cinta" karya A. Muttaqin adalah sebuah karya yang mengajak kita untuk melihat cinta sebagai sebuah kekuatan universal yang melampaui batas-batas yang kita buat. Cinta dalam puisi ini bukanlah cinta yang terbatas pada segelintir orang atau makhluk, tetapi merangkul semua ciptaan Tuhan—baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

Melalui puisi ini, penulis mengingatkan kita bahwa cinta sejati adalah cinta yang tidak mengenal batas. Ini adalah cinta yang menghubungkan kita dengan semua makhluk hidup dan alam semesta, mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari satu kesatuan yang lebih besar. Cinta yang meluas ini mengajak kita untuk lebih terbuka, lebih peduli, dan lebih menghargai segala sesuatu yang ada di sekitar kita, baik itu manusia, hewan, atau bahkan makhluk halus.

Dengan mengungkapkan cinta dalam bentuk yang begitu luas, A. Muttaqin mengajak pembaca untuk merenung dan menilai ulang bagaimana kita memandang cinta dalam kehidupan kita sehari-hari. Cinta bukanlah sesuatu yang bisa dibatasi atau disempitkan, melainkan sesuatu yang perlu dipelihara dan diperluas, mencakup setiap aspek kehidupan yang ada.

A. Muttaqin
Puisi: Diameter Cinta
Karya: A. Muttaqin

Biodata A. Muttaqin:
  • A. Muttaqin lahir pada tanggal 11 Maret 1983 di Gresik, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.