Puisi: Sehabis Pemakaman (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Sehabis Pemakaman" karya Gunoto Saparie adalah sebuah karya yang penuh refleksi tentang
Sehabis Pemakaman

hanya sunyi yang tersisa senja ini
ketika para pelayat beranjak pergi
ada gelap merapat ke pekuburan
tipis batas dunia dan alam penantian

tak ada lagi tawa di antara kita, bukan?
aroma tanah basah mengekalkan kenangan
di pusaramu kutabur seberkas bunga
suara angin berdesik pelan terbata-bata

aku pun mencoba berdoa, mengeja kata
waktu pun seakan berhenti sebentar
bumi makin tua, Tuhanku, manusia cuma fana
mendadak gerimis luruh tanpa berkabar

Analisis Puisi:

Puisi "Sehabis Pemakaman" karya Gunoto Saparie adalah sebuah refleksi mendalam tentang kehilangan, kefanaan, dan kesunyian yang menyelimuti setelah kepergian seseorang. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, puisi ini menggambarkan suasana emosional yang mendalam di sekitar pemakaman dan perasaan yang tersisa setelah prosesi perpisahan.

Tema Kesunyian dan Kehampaan

Puisi ini dibuka dengan larik "hanya sunyi yang tersisa senja ini," yang secara langsung mengisyaratkan perasaan sepi setelah para pelayat beranjak pergi. Ketiadaan suara, yang sebelumnya mungkin dipenuhi doa, tangis, atau percakapan, kini digantikan oleh keheningan yang mendalam. Ini menekankan betapa kematian menciptakan kekosongan yang nyata di kehidupan mereka yang ditinggalkan.

Batas Antara Kehidupan dan Kematian

Dalam larik "ada gelap merapat ke pekuburan, tipis batas dunia dan alam penantian," terdapat refleksi tentang keberadaan dua dunia: dunia fisik dan dunia setelah kematian. Gunoto Saparie ingin menegaskan bahwa setelah tubuh dimakamkan, jiwa memasuki dimensi lain yang misterius, meninggalkan kita dalam ketidakpastian akan apa yang sebenarnya terjadi setelahnya.

Kenangan yang Menetap

"Tak ada lagi tawa di antara kita, bukan?" adalah bentuk kepedihan yang terasa begitu dalam. Sebuah pertanyaan retoris ini mempertegas bahwa kebahagiaan yang pernah ada bersama orang yang telah meninggal kini hanya tinggal kenangan. Ditambah dengan larik "aroma tanah basah mengekalkan kenangan," puisi ini menekankan bahwa tanah makam bukan hanya tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga simbol keabadian kenangan tentang seseorang yang telah pergi.

Kesadaran Akan Kefanaan

Pada bagian akhir, puisi ini menyentuh tema kefanaan manusia. Larik "bumi makin tua, Tuhanku, manusia cuma fana" mengandung kesadaran bahwa kehidupan duniawi hanyalah sementara. Waktu terus berjalan, bumi terus berubah, tetapi manusia tetaplah makhluk yang terbatas. Hal ini sejalan dengan pemikiran eksistensial yang sering muncul dalam karya-karya sastra tentang kematian.

Simbol Alam yang Mengiringi Kesedihan

Gunoto Saparie menggunakan alam sebagai metafora untuk menggambarkan perasaan duka. "Suara angin berdesik pelan terbata-bata" mencerminkan kepedihan dan kebisuan yang meliputi suasana pemakaman. Sementara itu, "mendadak gerimis luruh tanpa berkabar" menunjukkan bahwa alam seolah ikut berduka dalam momen kehilangan ini. Hujan yang turun tiba-tiba sering kali diasosiasikan dengan simbol kesedihan atau air mata yang jatuh tanpa bisa ditahan.

Puisi "Sehabis Pemakaman" karya Gunoto Saparie adalah sebuah karya yang penuh refleksi tentang kehilangan, kesunyian, dan kefanaan. Dengan penggunaan bahasa yang puitis dan simbolisme yang kuat, puisi ini menggambarkan suasana duka yang mendalam dan mengajak pembaca untuk merenungkan arti kehidupan dan kematian. Karya ini tidak hanya menggugah emosi, tetapi juga memberikan perspektif tentang bagaimana manusia menghadapi perpisahan dan mencoba berdamai dengan kesedihan.

Foto GS Halim
Puisi: Sehabis Pemakaman
Karya: Gunoto Saparie

GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).

Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah. Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.