Puisi: Tunas Tawa yang Kemarin (Karya Andy Sri Wahyudi)

Puisi "Tunas Tawa yang Kemarin" menghadirkan metafora kehidupan yang terus berjalan dengan berbagai perubahan yang tidak dapat dihindari.
Tunas Tawa yang Kemarin
(: Cindy)

Pagi...
Mengapa kamu diam?

Apakah aku menyapamu terlalu sore?
Tapi sore ini semanis permen
Tapi tidak manja seperti daun-daun

Kamu ingin menjadi apa 10 tahun lagi?
Jangan jadi balon dan arum manis
Jadilah air putih atau sungai kecil berair hangat

Ah, aku ingin menciummu tapi aku takut jadi patung
Aku takut jadi buah manggis; takut jadi hantu

Aku lupa mencintaimu
Hari ini usiamu sudah menjadi tanah liat
Dan berdiam dalam kamar

Di sepanjang jalanan pagi tadi
Aku melihat tunas-tunas tawa kita yang kemarin,
Tuhan akan selalu menyiraminya.
Dengan pelangi.

Juni, 2009

Analisis Puisi:

Puisi "Tunas Tawa yang Kemarin" merupakan puisi karya Andy Sri Wahyudi yang mengandung perenungan mendalam tentang waktu, perubahan, dan kenangan. Puisi ini menghadirkan metafora kehidupan yang terus berjalan dengan berbagai perubahan yang tidak dapat dihindari.

Tema dalam Puisi

Tema utama dalam puisi ini adalah perjalanan waktu dan kenangan. Puisi ini menggambarkan perubahan seseorang dari masa lalu ke masa kini, serta bagaimana kenangan tetap bertahan meskipun segala sesuatu berubah. Ada pula nuansa refleksi dan pertumbuhan dalam puisi ini.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merenungkan masa lalunya, terutama tentang tawa dan kebahagiaan yang pernah ada. Sang penyair menyapa pagi, seolah berbicara dengan waktu yang telah berlalu. Ada pertanyaan tentang masa depan dan keinginan untuk tidak menjadi sesuatu yang rapuh, melainkan sesuatu yang bermanfaat. Puisi ini juga menunjukkan perasaan kehilangan, ketakutan akan perubahan, dan harapan bahwa kenangan indah tetap hidup.

Makna Tersirat dalam Puisi

Puisi ini menyiratkan bahwa waktu terus berjalan, dan seseorang harus menerima perubahan yang terjadi dalam hidup. Ada perasaan rindu terhadap kebahagiaan masa lalu, namun juga kesadaran bahwa hidup harus terus bergerak maju. Tunas-tunas tawa yang disebutkan di akhir puisi melambangkan harapan bahwa kebahagiaan masa lalu masih bisa tumbuh dan bertahan dalam bentuk yang berbeda.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini memiliki suasana melankolis dan reflektif. Ada kesan rindu, tetapi juga harapan yang disampaikan dengan lembut melalui metafora alam.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan Puisi

Melalui puisi ini, penyair ingin menyampaikan bahwa waktu tidak bisa dihentikan, dan manusia harus bisa menerima perubahan dalam hidup. Kenangan adalah sesuatu yang berharga, tetapi seseorang tidak boleh terus-terusan terjebak dalam masa lalu. Kehidupan harus tetap dijalani dengan penuh kesadaran dan harapan.

Majas dalam Puisi

Puisi ini menggunakan beberapa majas yang memperkaya maknanya, di antaranya:
  • Majas Personifikasi: "Pagi... Mengapa kamu diam?" yang memberikan sifat manusia kepada pagi.
  • Majas Metafora: "Hari ini usiamu sudah menjadi tanah liat" yang menggambarkan perubahan dan kefanaan hidup.
  • Majas Simile: "Sore ini semanis permen" yang membandingkan sore dengan permen untuk menunjukkan kelembutan suasana.
Puisi "Tunas Tawa yang Kemarin" adalah puisi yang penuh dengan refleksi tentang waktu, kenangan, dan perubahan. Dengan bahasa yang puitis dan metafora yang kuat, puisi ini menggambarkan bagaimana seseorang menghadapi perubahan dalam hidup, merindukan masa lalu, tetapi juga tetap berharap pada masa depan.


Andy Sri Wahyudi
Puisi: Tunas Tawa yang Kemarin
Karya: Andy Sri Wahyudi
© Sepenuhnya. All rights reserved.