Alpa
Kalau tiada angin mengusap
Tiada pula awan menguak
Segala ini perbenda-harian
Pada mengental di hadapan.
Inikah pantai berkabut lagi
Tempat ombak pecah; mendaki
Atau, pulau beraneka kumbang
Paman tani; — jadi pahlawan.
Zaman silam, dalam renungan
Pedih merasuk ke ruang sum-sum
Kini yang menjelma, di hadapan
Pesta yang mengandung racun.
Dan lagu yang didendangkan;
Tanah air; — takkan bercerai
Tapi mengabur, di jauh lapang
Tumpah darah; menganakkan sungai
Entah gentayangan: tak sedar diri
Jadi rebutan serdadu orang
Atau sampai kini belum mengerti
Di hadapan – sejarah menyedihkan.
Sumber: Mimbar Indonesia (10 Juli 1948)
Analisis Puisi:
Tema utama puisi "Alpa" adalah kealpaan atau kelalaian terhadap sejarah dan perjuangan bangsa. Puisi ini berbicara tentang bagaimana generasi masa kini mulai melupakan sejarah kelam perjuangan kemerdekaan, terbuai oleh pesta-pesta dan gemerlap dunia modern.
Makna Tersirat
Puisi ini menyiratkan kritik sosial terhadap generasi penerus yang melupakan sejarah perjuangan bangsa. Perjuangan yang dahulu dipenuhi darah, keringat, dan air mata kini terlupakan begitu saja. Mereka lebih sibuk dengan pesta dan kesenangan, tanpa peduli bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini adalah hasil perjuangan panjang para pahlawan.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan bahwa lupa terhadap sejarah sama dengan mengkhianati identitas dan jati diri bangsa. Jika generasi muda alpa, maka kehancuran sejarah dan identitas bangsa tinggal menunggu waktu.
Puisi ini bercerita tentang refleksi sejarah dan renungan mendalam terhadap nasib tanah air. Dulu, tanah air dipenuhi perjuangan dan pengorbanan, tetapi kini, semangat itu memudar. Nilai kebangsaan dan cinta tanah air perlahan terkikis oleh kesenangan duniawi dan pesta yang tak bermakna. Di tengah itu, sejarah kelam bangsa seolah kembali menghantui, mengingatkan bahwa alpa terhadap sejarah bisa berujung pada kehancuran.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini dipenuhi kesedihan, keprihatinan, dan kegelisahan. Ada nuansa muram ketika penyair menggambarkan pantai berkabut, ombak pecah, dan sejarah menyedihkan yang terus menghantui.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang ingin disampaikan Kasim Mansur dalam puisi ini adalah pentingnya mengingat sejarah dan menghargai perjuangan para pahlawan. Generasi sekarang tidak boleh alpa atau lalai terhadap sejarah bangsanya sendiri. Kegagalan memahami sejarah akan membuat bangsa mudah terombang-ambing dan kehilangan jati diri.
Selain itu, puisi ini juga mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar pesta atau simbol semata, tetapi memiliki makna mendalam yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji yang menggugah visual dan perasaan pembaca, di antaranya:
- “pantai berkabut lagi” menghadirkan gambaran pantai yang suram dan kelam.
- “ombak pecah; mendaki” menciptakan imaji tentang gelombang besar yang membawa pesan tentang masa lalu.
- “pesta yang mengandung racun” menghadirkan gambaran pesta penuh tipu daya, simbol kesenangan semu yang berbahaya.
- “tumpah darah; menganakkan sungai” membentuk imaji dramatis tentang pertumpahan darah dalam perjuangan kemerdekaan.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: “pesta yang mengandung racun” menggambarkan kesenangan yang menyesatkan.
- Personifikasi: “zaman silam, dalam renungan pedih merasuk ke ruang sum-sum” seolah-olah sejarah hidup dan menyiksa batin.
- Simbol: “tanah air; takkan bercerai” melambangkan kesatuan dan persatuan yang seharusnya dijaga.
Karya: Kasim Mansur
Biodata Kasim Mansur:
- Kasim Mansur merupakan seorang penyair yang lahir tanggal 1 Mei 1923 di Surabaya, Jawa Timur.
