Puisi: Hujan di Sore Hari (Karya F. Rahardi)

Puisi "Hujan di Sore Hari" karya F. Rahardi bercerita tentang seorang tokoh yang duduk diam di kamarnya di sore hari saat hujan turun.
Hujan di Sore Hari

seperti baru pertamakali mengerti
kupandangi
gerimis makin lama makin deras rasanya
kupandangi
bunga-bunga berwarna-warni
diatur rapi di serambi
dalam pot-pot yang tinggi
pasti tak perlu disiram lagi sore ini
aku termenung di kamar
apakah yang harus kulakukan
pada saat-saat seperti ini
apa yang harus kukerjakan?
dari jendela nampak halaman yang lebar
cemara-cemara sangat gelisah daunnya
sedang rumputan
hilang dari pemandangan
seperti baru pertamakali mengerti
kutunggui
hujan belum juga reda nampaknya.

Sukabumi, 2/11/1974

Analisis Puisi:

Puisi "Hujan di Sore Hari" karya F. Rahardi mengangkat tema tentang kesunyian, perenungan, dan kebingungan eksistensial. Melalui suasana hujan di sore hari, puisi ini menghadirkan momen refleksi diri seorang tokoh yang tengah terjebak dalam kebingungan tentang apa yang seharusnya ia lakukan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini menyentuh perasaan canggung dan kosong yang kadang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah hujan yang terus turun, penyair menggambarkan seseorang yang termenung, merasa asing dengan dirinya sendiri, dan tiba-tiba mempertanyakan tujuan atau makna dari momen-momen kecil yang ia alami.

Hujan di sore hari menjadi latar yang memperkuat perasaan hampa dan keraguan itu. Melalui hujan, bunga-bunga, dan cemara yang gelisah, puisi ini menyampaikan bahwa bahkan alam pun tampak resah, seolah mencerminkan kegelisahan batin manusia.

Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh yang duduk diam di kamarnya di sore hari saat hujan turun. Ia memandangi halaman, bunga-bunga di serambi, dan pohon cemara yang gelisah daunnya diterpa angin. Di tengah suasana itu, ia justru merasa bingung dan bertanya-tanya tentang apa yang seharusnya ia lakukan. Hujan yang terus mengguyur membuatnya semakin tenggelam dalam pikiran-pikirannya sendiri.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini tenang, sendu, sekaligus hampa. Ada nuansa melankolis dari rintik hujan yang perlahan menjadi deras, dipadukan dengan pemandangan halaman dan tanaman yang seolah ikut gelisah. Suasana ini mendukung refleksi batin yang dipenuhi kebingungan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa dalam hidup, sering kali kita dihadapkan pada momen hening dan sepi, di mana kita dipaksa merenung dan bertanya tentang makna keberadaan kita sendiri. Saat-saat seperti itu penting untuk disadari, karena di sanalah kita belajar memahami diri dan kehidupan dengan cara yang baru.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang cukup kuat, antara lain:
  • Imaji visual: "gerimis makin lama makin deras", "bunga-bunga berwarna-warni", "cemara-cemara sangat gelisah daunnya", "rumputan hilang dari pemandangan".
  • Imaji perasaan: "aku termenung di kamar", "apakah yang harus kulakukan". Imaji-imaji tersebut berhasil membangun suasana reflektif yang sunyi dan mendalam.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini adalah:
  • Majas Personifikasi, seperti pada baris cemara-cemara sangat gelisah daunnya, di mana daun cemara digambarkan seolah memiliki perasaan gelisah layaknya manusia.
  • Majas Repetisi, seperti pengulangan frasa seperti baru pertamakali mengerti, yang menekankan bahwa ada sesuatu yang mendadak disadari oleh tokoh dalam puisi.
  • Majas Hiperbola, seperti hujan belum juga reda nampaknya, yang memperkuat kesan waktu yang terasa begitu lambat saat hujan turun.

Floribertus Rahardi
Puisi: Hujan di Sore Hari
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.