Puisi: Requiem (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Requiem” karya Wayan Jengki Sunarta adalah nyanyian kematian—sebuah requiem yang mengingatkan bahwa hidup dan mati adalah satu tarikan nafas ..
Requiem

mengapa harus ruhku
menuju ruhmu

kau ternganga di tepi cadas
memandang cemas
pada burung-burung
yang mematahkan sayapnya di udara

pada pusaran warna
adakah kau temukan keabadian

maut lekat
pada mata
pisu palet

teriaklah lantang
pilu melolong
seperti anjing
tersihir
bulan telanjang

kutemukan kau
pada tekstur cadas
menceburkan diri
dari jeram

kau meresap ke rekah batu
tidur seperti batu
bercinta dengan batu
mati dalam batu

mengapa harus ruhku
menuju ruhmu

kembali pada diri
aku hablur dirajam mimpi
mengutuk diri
mensyukuri diri.

2002

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Requiem” mengusung tema kematian, keterasingan, dan pencarian makna eksistensi. Puisi ini mengangkat bagaimana ruh manusia berkelana mencari makna, bersinggungan dengan bayangan kematian, serta berhadapan dengan kesunyian batu dan kerasnya kehidupan.

Makna Tersirat

Secara tersirat, puisi ini menggambarkan perjalanan ruh manusia setelah kematian, di mana ruh sang penyair merasa harus bertemu dan menyatu dengan ruhmu. Ada kesan bahwa dua jiwa yang pernah terhubung di dunia kini kembali mencari satu sama lain di alam lain. Namun, dalam pencarian itu, mereka hanya menemukan keterasingan dan kesunyian yang dingin, diwakili oleh simbol-simbol seperti cadas dan batu.

Puisi ini juga mengisyaratkan betapa manusia tak pernah sepenuhnya siap menghadapi kematian, meski sadar bahwa maut selalu mengintai. Kematian dipandang seperti palet kosong, kanvas tanpa warna, yang menghentikan seluruh kreativitas dan kehidupan. Namun, di sisi lain, kematian juga membawa kesadaran baru tentang diri sendiri—sebuah bentuk kutukan sekaligus rasa syukur atas keberadaan yang fana ini.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan ruh setelah kematian, pencarian makna dalam kematian itu sendiri, dan pertemuan ruh penyair dengan ruh yang lain. Dalam pencarian tersebut, penyair dihadapkan pada pemandangan burung-burung yang patah sayapnya di udara, simbol harapan dan kebebasan yang runtuh. Ada pula citra batu dan cadas yang kasar dan keras, melambangkan keterasingan dan ketidakberdayaan di hadapan maut.

Puisi ini juga menampilkan perenungan tentang hubungan antara dua ruh—apakah mereka sekadar saling mencari, atau saling menghukum karena pernah saling melukai. Ada ambiguitas antara cinta, kemarahan, kehilangan, dan penyerahan diri.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa suram, mistis, penuh kesunyian yang mencekam, sekaligus penuh kontemplasi mendalam tentang hidup dan mati.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa kematian bukanlah akhir dari pencarian, melainkan pintu menuju perenungan baru tentang eksistensi dan hubungan antar jiwa. Puisi ini juga mengingatkan bahwa manusia sering kali terperangkap dalam dilema antara mengutuk diri sendiri atas luka-luka masa lalu, sekaligus mensyukuri bahwa diri ini pernah ada, pernah hidup, dan pernah mencinta.

Imaji

Puisi ini sarat dengan imaji yang kuat, di antaranya:
  • Burung-burung mematahkan sayapnya di udara — imaji kehancuran harapan dan kebebasan.
  • Cadas dan batu — imaji kerasnya realitas kematian yang sunyi dan dingin.
  • Pusaran warna — imaji pencarian makna di tengah ketiadaan.
  • Maut lekat pada mata, pisu palet — imaji kematian sebagai penghenti kreativitas dan kehidupan.
  • Bulan telanjang — imaji kesepian dan kegilaan.

Majas

Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini:
  • Metafora: ruh menuju ruh sebagai perlambang pencarian eksistensi jiwa yang telah mati.
  • Personifikasi: maut yang “lekat pada mata”, menjadikan maut seolah makhluk hidup yang mengintai.
  • Simbolisme: batu dan cadas melambangkan keterasingan dan kesunyian absolut.
  • Hiperbola: “bercinta dengan batu, mati dalam batu” menggambarkan keterikatan total pada kesunyian setelah kematian.
  • Repetisi: “mengapa harus ruhku menuju ruhmu” diulang untuk mempertegas pencarian ruh yang penuh kegelisahan.
Puisi “Requiem” karya Wayan Jengki Sunarta merupakan puisi kontemplatif yang menyelami tema kematian dan keterasingan ruh manusia. Dengan imaji-imaji yang gelap dan simbol-simbol alam yang keras seperti batu dan cadas, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan perjalanan jiwa setelah kematian, serta bagaimana cinta, luka, dan kerinduan tetap menyala bahkan setelah ruh terlepas dari raga.

Puisi ini adalah nyanyian kematian—sebuah requiem yang mengingatkan bahwa hidup dan mati adalah satu tarikan nafas panjang yang terus mempertanyakan makna keberadaan kita sendiri.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Requiem
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.