Implementasi Pengembangan Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka dalam Meningkatkan Karakter Siswa

Peralihan dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka merupakan langkah penting dalam reformasi pendidikan nasional. Kedua kurikulum sama-sama ...

Pengembangan dalam dunia pendidikan adalah proses untuk mencapai kemajuan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas, yang bertujuan untuk menggali dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Seiring perkembangan zaman, kurikulum pendidikan harus mampu beradaptasi dan mengintegrasikan nilai-nilai budaya, teknologi, serta ilmu pengetahuan agar tetap relevan dan bermakna bagi siswa. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum perlu dilakukan secara sistematis dan terarah dengan memperhatikan prinsip relevansi, fleksibilitas, efektivitas, dan kesinambungan. Hal ini penting agar sistem pendidikan mampu menjawab tantangan global sekaligus memenuhi kebutuhan lokal.

Pendidikan karakter menjadi salah satu aspek penting dalam proses pengembangan kurikulum. Menurut Likona (1992) dalam Muhtar (2014:168), pendidikan karakter berfungsi sebagai sarana untuk membentuk kehidupan sosial yang demokratis dan komitmen moral di tengah masyarakat. Nilai-nilai seperti saling menghargai, menghormati, dan peduli terhadap kesejahteraan bersama menjadi landasan penting dalam kehidupan bersama. Karakter sendiri mencerminkan watak, kebiasaan, akhlak, dan kepribadian seseorang yang terbentuk dari internalisasi nilai-nilai kebajikan (virtues). Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi dasar dalam berpikir, bersikap, hingga bertindak.

Implementasi Pengembangan Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka dalam Meningkatkan Karakter Siswa

Sultoni (2016:193) menyebutkan bahwa penerapan pendidikan karakter di sekolah dilakukan melalui pengintegrasian nilai-nilai karakter ke dalam mata pelajaran (termasuk muatan lokal), kegiatan pembelajaran, budaya sekolah, serta kegiatan ekstrakurikuler. Senada dengan itu, Kemendiknas (2010:19-21) menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menggunakan pendekatan pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa, dan diterapkan dalam berbagai kegiatan di dalam maupun di luar kelas.

Berdasarkan pandangan para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter bertujuan membentuk kepribadian siswa melalui internalisasi nilai-nilai positif yang diaplikasikan dalam pembelajaran. Tujuannya adalah menciptakan siswa yang kreatif, fleksibel, serta memiliki akhlak dan moral yang kuat.

Perbandingan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka

Kurikulum 2013 dirancang dengan pendekatan ilmiah (scientific approach) yang terdiri dari kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyajikan, hingga mencipta. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun keseimbangan antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa. Dalam konteks ini, pendidikan karakter terintegrasi ke dalam seluruh aspek pembelajaran dan kehidupan sekolah.

Sebaliknya, Kurikulum Merdeka mengusung filosofi “Merdeka Belajar” yang bersumber dari gagasan Ki Hadjar Dewantara. Dalam pandangan ini, pendidikan diarahkan untuk memberikan kebebasan kepada siswa dalam proses belajar sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendampingi siswa, bukan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Peran guru ditingkatkan dalam aspek profesional, pedagogik, sosial, dan kelembagaan.

Meski sama-sama menekankan pentingnya karakter, Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka memiliki pendekatan yang berbeda. Kurikulum 2013 lebih terstruktur, dengan integrasi karakter ke dalam mata pelajaran dan kegiatan sekolah. Sedangkan Kurikulum Merdeka memberikan ruang yang lebih luas bagi kreativitas guru dan siswa, melalui kebebasan dalam memilih materi serta metode belajar yang sesuai dengan kondisi dan potensi lokal.

Studi Kasus dan Implementasi

Dalam implementasinya, Kurikulum 2013 sering kali menggunakan model pembelajaran seperti STAD (Student Teams Achievement Divisions). Model ini melibatkan beberapa langkah utama, yaitu pembentukan kelompok, penyajian materi, pemberian tugas kelompok, evaluasi, pemberian motivasi, hingga kesimpulan. Pembelajaran dilakukan secara kolaboratif dan menekankan kerja sama antar siswa.

Sementara itu, implementasi Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada proyek berbasis karakter melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Fokusnya adalah membentuk siswa menjadi individu yang memiliki karakter kuat, mandiri, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Contohnya dapat dilihat pada penelitian di SDN Larangan yang mengkaji implementasi Kurikulum Merdeka dalam membentuk karakter peduli lingkungan pada sekolah adiwiyata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami bagaimana siswa merespons pembelajaran yang mengedepankan nilai-nilai kepedulian lingkungan. Moleong (2017:7) menjelaskan bahwa pendekatan kualitatif bertujuan memahami fenomena secara holistik melalui deskripsi naratif dalam konteks yang alami.

Kurikulum sebagai Wahana Pengembangan Karakter

Menurut Sanjaya (2008), kurikulum berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan potensi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan. Artinya, semua kegiatan yang dilakukan siswa—baik di dalam maupun di luar kelas—adalah bagian dari proses pembelajaran. Dalam konteks ini, kurikulum tidak hanya terbatas pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan kepribadian.

Kurikulum 2013 dikenal sebagai kurikulum terpadu karena menggabungkan berbagai mata pelajaran ke dalam pembelajaran tematik. Dalam pelaksanaannya, banyak kegiatan disatukan dalam satu tema agar lebih kontekstual dan mudah dipahami siswa. Salah satu kegiatan penting dalam Kurikulum 2013 adalah Pramuka, yang menjadi ekstrakurikuler wajib sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Sementara Kurikulum Merdeka menempatkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sebagai pilar utamanya. Proyek ini dirancang agar siswa dapat mengalami langsung nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, seperti gotong royong, kemandirian, dan kepedulian sosial. Kurikulum ini membagi kegiatan pembelajaran menjadi dua bentuk utama, yakni kegiatan intrakurikuler dan proyek P5 sebagai praktik penguatan karakter.

Fleksibilitas dan Konteks Lokal

Kurikulum Merdeka dirancang lebih fleksibel dibandingkan Kurikulum 2013. Materi yang diajarkan lebih sederhana, tetapi esensial. Kurikulum ini memberikan keleluasaan bagi guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Selain itu, Kurikulum Merdeka lebih adaptif terhadap konteks lokal, sehingga siswa lebih mudah memahami pelajaran karena berhubungan langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Dalam Kurikulum 2013, alokasi waktu belajar dilakukan per minggu dalam satu semester. Sebaliknya, Kurikulum Merdeka memberi ruang waktu yang lebih terbuka, memungkinkan integrasi antara teori dan praktik secara lebih efektif. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna bagi siswa.

Peralihan dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka merupakan langkah penting dalam reformasi pendidikan nasional. Kedua kurikulum sama-sama menekankan pengembangan karakter, tetapi pendekatannya berbeda. Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan ilmiah dan integrasi nilai dalam mata pelajaran. Sedangkan Kurikulum Merdeka menawarkan kebebasan belajar yang lebih luas, dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan berbasis proyek.

Dengan adanya Kurikulum Merdeka, guru dan siswa diberikan kebebasan untuk menciptakan proses pembelajaran yang relevan, adaptif, dan menyenangkan. Harapannya, siswa tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, mandiri, dan mampu berkontribusi secara positif di masyarakat.

Biodata Penulis:

Dede Nilna Ai'Latul Khiyaroh saat ini aktif sebagai mahasiswa, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, di Universitas Peradaban Bumiayu.

© Sepenuhnya. All rights reserved.