Puisi: Y.A.D (Karya Kasim Mansur)

Puisi "Y.A.D" karya Kasim Mansur bercerita tentang suatu masa (mungkin masa depan) ketika nilai-nilai tradisional seperti empati, upacara kematian, ..
Y.A.D

Aku telah mendengar kabar gempita
lain daripada yang pernah merasa
dan lain dari orang menduga
lain pula, jika pengembara bercerita
seperti yang disampaikan ke telinga bangsa.

Beduk tidak akan memberi tahu kematian
tiada pula waktu atau tempat meratap
karena kita saling menanam kebencian
dan tiada lagi ziarah mengantar bunga.

Hanya musim yang berselisih kini
tiada akan terpelihara lagi,
dan pergantian tahun nanti
akan terbit di segala hari
satu pancaran dari kabut suci
tak tahu di mana akan mati.

Sumber: Mimbar Indonesia (Juni 1948)

Analisis Puisi:

Puisi "Y.A.D" karya Kasim Mansur menawarkan sebuah renungan mendalam tentang kondisi sosial dan spiritual manusia modern yang kehilangan arah. Dengan gaya bahasa reflektif dan penuh pertanyaan eksistensial, puisi ini menggambarkan suasana zaman yang diliputi oleh kebencian, kehilangan makna tradisi, dan kaburnya batas antara hidup dan mati. Judulnya sendiri, Y.A.D, kemungkinan merupakan akronim dari “Yang Akan Datang”, sebuah petunjuk bahwa puisi ini adalah semacam ramalan atau renungan akan masa depan yang suram dan absurd.

Tema

Tema utama dari puisi ini adalah keresahan terhadap kehancuran nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas dalam dunia yang sedang atau akan datang. Penyair seolah mengajak pembaca untuk merenungi zaman yang penuh kekacauan batin, di mana manusia kehilangan rasa kasih, makna ziarah, dan bahkan kesadaran akan kematian. Tema ini juga erat dengan alienasi manusia dari tradisi dan moralitas.

Puisi ini bercerita tentang suatu masa (mungkin masa depan) ketika nilai-nilai tradisional seperti empati, upacara kematian, dan penghormatan terhadap kehidupan telah lenyap. Dimulai dari “kabar gempita” yang aneh—bukan seperti pengalaman biasa, bukan pula seperti cerita pengembara—puisi ini menyampaikan bahwa zaman telah bergeser begitu jauh hingga hal-hal yang dulu sakral kini dianggap asing.

Dunia dalam puisi ini bukan lagi dunia yang mengenal duka dengan layak. “Beduk tidak akan memberi tahu kematian / tiada pula waktu atau tempat meratap” mengisyaratkan bahwa kematian datang tanpa peringatan dan tanpa penghormatan. Bahkan, “kita saling menanam kebencian” memperlihatkan betapa retaknya relasi sosial dan kemanusiaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap dehumanisasi dan pengabaian nilai-nilai spiritual serta budaya. Ketika manusia saling membenci, mereka kehilangan simpati bahkan dalam hal yang paling mendasar sekalipun—kematian. Ketiadaan “ziarah” dan “bunga” adalah simbol lenyapnya kepedulian dan penghormatan terhadap sesama.

Selain itu, baris “satu pancaran dari kabut suci / tak tahu di mana akan mati” menunjukkan absurditas keberadaan modern: manusia hidup dalam dunia yang kabur antara kebenaran dan kepalsuan, antara sakral dan profan, tanpa lagi tahu arah atau tujuan akhir. Ini mengarah pada makna eksistensial, bahwa manusia di masa kini (atau masa depan) hidup tanpa pijakan rohani.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini suram, resah, dan apokaliptik. Ada ketegangan dan kegelisahan yang melingkupi setiap bait. Kabar yang tidak biasa, lenyapnya beduk dan ziarah, serta kabut yang suci namun membingungkan, semuanya menciptakan atmosfer zaman yang kehilangan kehangatan dan keteraturan. Puisi ini menyiratkan suasana kehampaan spiritual dan kehancuran emosional.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat dari puisi ini bisa ditafsirkan sebagai peringatan bagi manusia agar tidak melupakan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan spiritualitas, sebab jika itu diabaikan, dunia yang akan datang akan sunyi dari cinta, ritual, dan makna. Kasim Mansur seolah ingin menyampaikan bahwa tanpa nilai-nilai luhur, bahkan kematian pun menjadi tidak berarti, dan kita akan hidup dalam dunia yang kacau, tanpa kehangatan peradaban.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji yang tidak langsung namun kuat secara simbolik:
  • “Kabar gempita lain daripada yang pernah merasa” — menciptakan imaji tentang berita besar yang tidak bisa dipahami secara biasa.
  • “Beduk tidak akan memberi tahu kematian” — menghadirkan imaji tentang kematian yang datang tanpa ritual, tanpa penghormatan.
  • “Tiada ziarah mengantar bunga” — mengisyaratkan hilangnya tradisi yang penuh kasih dalam menghadapi kematian.
  • “Satu pancaran dari kabut suci” — imaji spiritual yang misterius, mengaburkan antara wahyu dan ketidaktahuan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “Beduk” sebagai simbol tradisi atau tanda-tanda spiritual yang memberi tahu momen penting (kematian); “kabut suci” sebagai simbol kerancuan spiritualitas atau harapan yang samar.
  • Hiperbola: “tiada pula waktu atau tempat meratap” memperbesar efek kehilangan spiritual dan emosional manusia.
  • Paradoks: “tak tahu di mana akan mati” adalah bentuk paradoks eksistensial yang memperlihatkan absurditas dan ketidaksiapan manusia menghadapi akhir hidup.
  • Ironi: Dalam zaman yang seharusnya maju, justru yang hilang adalah hal-hal dasar: kasih sayang, penghormatan terhadap kematian, dan kepastian spiritual.
Puisi "Y.A.D" karya Kasim Mansur adalah potret cemas akan zaman yang kehilangan jiwanya. Dalam larik-larik yang padat dan filosofis, ia mengungkapkan keresahan terhadap dunia yang tidak lagi mengenal rasa, tidak lagi memberi penghormatan pada hidup dan mati. Lewat simbol beduk, bunga, ziarah, dan kabut suci, Kasim Mansur menggambarkan dunia yang kehilangan akar—baik spiritual, budaya, maupun emosional. Puisi ini bukan sekadar renungan, tetapi juga peringatan: bahwa manusia yang melupakan rasa akan hidup dalam zaman yang hampa, asing, dan menakutkan.

Puisi: Y.A.D
Puisi: Y.A.D
Karya: Kasim Mansur

Biodata Kasim Mansur:
  • Kasim Mansur merupakan seorang penyair yang lahir tanggal 1 Mei 1923 di Surabaya, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.