Besok
Kejar dia, kejar dia
sampai dapat
jangan dilepaskan
sampai dapat
tangkap dia, tangkap dia
sampai terdekap
jangan tidak kena
sergap, sergap!
Meski dia terus terbang
meski tinggi di angkasa
tunggu, tunggu!
dia akan lelah
nanti tentu
hinggap. Hinggap!
Haha!
cucup mulut merah ini
sampai layu
sepuas nafsumu
senja besok kita mati.
10 Januari 1947
Sumber: Lembar-Lembar Sajak Lama (1984)
Analisis Puisi:
Puisi “Besok” karya P. Sengodjo adalah sebuah karya puitik yang menggambarkan dinamika antara keinginan, pengejaran, dan akhirnya, kematian. Dengan bahasa yang kuat dan eksplisit, puisi ini mengeksplorasi gagasan tentang hasrat manusia yang terarah pada sesuatu yang sulit dijangkau, hanya untuk menemui kenyataan bahwa semuanya akan berakhir, tanpa terkecuali. Sengodjo menggunakan struktur dan gaya bahasa yang sederhana, tetapi berhasil menyampaikan kedalaman makna melalui perintah yang tegas dan gambaran yang tajam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pengejaran, hasrat yang tidak terpuaskan, dan kematian sebagai akhir dari segala hal. Dalam puisi ini, ada semangat untuk mengejar sesuatu (yang digambarkan dengan kata “kejar” dan “tangkap”), namun di akhir puisi, semua itu berujung pada kesadaran bahwa hidup ini akan berakhir, diwakili oleh ungkapan “senja besok kita mati.” Puisi ini membawa pesan tentang keterbatasan manusia dalam meraih apa yang diinginkan, dan akhirnya, kematian yang menunggu di ujung perjalanan.
Puisi ini bercerita tentang sebuah usaha tanpa henti untuk mengejar dan menangkap sesuatu yang tidak terjangkau. Gambaran dari pengejaran itu disampaikan dengan kata-kata yang mendesak dan penuh tenaga: “Kejar dia, kejar dia, sampai dapat”, “Tangkap dia, tangkap dia, sampai terdekap”. Namun, meskipun ada tekad yang kuat, ada kesadaran di akhir puisi bahwa meskipun “dia terus terbang” dan “tinggi di angkasa”, akhirnya, objek yang dikejar itu akan lelah dan berhenti. Di titik itu, ada ironi besar, karena bahkan ketika yang diinginkan itu akhirnya tercapai, itu tidak akan memberi kepuasan sejati. Puisi ini mengarah pada sebuah kesadaran bahwa semua pencapaian kita hanya akan berujung pada kematian, yang tidak bisa ditunda atau dihindari.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah keteguhan dan keputusasaan dalam pengejaran hidup. Pengejaran terhadap sesuatu yang tampaknya diinginkan sangat kuat, dengan dorongan “kejar” dan “tangkap” yang berulang. Namun, ada ironi yang mendalam di dalamnya—meskipun segala usaha dilakukan untuk mencapai tujuan, pada akhirnya semua itu tidak berharga ketika mengingat bahwa kematian pasti datang. Ungkapan “senja besok kita mati” mengingatkan kita bahwa apapun yang kita kejar dalam hidup ini, kita akan selalu berhadapan dengan kenyataan bahwa waktu kita terbatas, dan pada akhirnya kita semua akan mati.
Puisi ini juga bisa dibaca sebagai komentar tentang keinginan manusia yang sering kali terarah pada hal-hal duniawi yang tidak bertahan lama, sementara yang lebih esensial dan kekal seringkali terabaikan.
Unsur Puisi
Beberapa unsur puisi yang penting dalam karya ini adalah:
- Diksi: Pemilihan kata yang kuat dan penuh semangat, seperti “kejar”, “tangkap”, “sergap”, “hinggap”, dan “cucup mulut merah ini”, menciptakan suasana yang penuh ketegangan dan desakan.
- Struktur: Dengan hanya satu bait yang terdiri dari empat baris, puisi ini langsung ke inti, tanpa banyak pembukaan atau penjelasan. Struktur yang singkat namun padat ini menggambarkan kecepatan dan urgensi dari pengejaran itu sendiri.
Imaji
Puisi ini memiliki imaji yang mencolok dan memperkuat nuansa pengejaran yang penuh gairah:
- “Kejar dia, kejar dia / sampai dapat”: Imaji dari pengejaran yang berlarut-larut, dengan semangat yang tidak kenal lelah.
- “Meski dia terus terbang / meski tinggi di angkasa”: Imaji ini menggambarkan objek yang dikejar begitu jauh dan tak terjangkau, seakan sesuatu yang tak dapat diraih meskipun segala upaya telah dilakukan.
- “Cucup mulut merah ini / sampai layu”: Imaji ini sangat visual dan sensual, menggambarkan kepuasan fisik yang dicapai, tetapi juga dengan kesan yang tidak kekal, seperti sesuatu yang cepat pudar.
- “Senja besok kita mati”: Imaji ini menggambarkan kesadaran akan kefanaan dan ketidakabadian dari semua usaha dan keinginan manusia.
Majas
Puisi ini memperkaya maknanya dengan beberapa majas yang kuat:
Hiperbola:
- “Kejar dia, kejar dia / sampai dapat” dan “Tangkap dia, tangkap dia / sampai terdekap” menggunakan pengulangan yang memberi kesan desakan berlebihan dan tak kenal lelah dalam mengejar sesuatu.
- “Cucup mulut merah ini / sampai layu” memberikan gambaran berlebihan tentang kepuasan atau kenikmatan fisik yang akhirnya memudar.
Antitesis:
- “Senja besok kita mati” berfungsi sebagai penyeimbang antara pencapaian yang tidak pernah berakhir dan kenyataan bahwa hidup ini berakhir dengan kematian.
Personifikasi:
- “Dia akan lelah / nanti tentu hinggap” memberikan sifat manusiawi pada objek yang dikejar, seolah-olah ia bisa lelah dan akhirnya berhenti.
Puisi “Besok” karya P. Sengodjo adalah karya yang menggambarkan dinamika antara pengejaran yang penuh semangat dan kesadaran akan kefanaan. Dalam pengulangan kata-kata yang mendesak, puisi ini menggambarkan bagaimana manusia sering kali terjebak dalam upaya yang tidak pernah selesai untuk mencapai sesuatu yang tampaknya diinginkan, hanya untuk akhirnya menyadari bahwa kematian adalah akhir dari segala pencapaian. Dengan menggunakan metafora pengejaran dan akhirnya ketidakpastian yang membawa pada kematian, puisi ini memberikan peringatan mengenai batasan waktu dan tujuan hidup yang tidak pernah bisa tercapai sepenuhnya.
Puisi ini menggugah kita untuk merenungkan tentang keinginan manusia yang terarah pada hal-hal yang sering kali tidak abadi, dan bagaimana kita harus berhati-hati dalam mengejar apa yang kita inginkan. Semua usaha akan berakhir, dan kematian tetap menjadi takdir akhir yang tidak bisa dihindari.
Karya: P. Sengodjo
Biodata P. Sengodjo:
- P. Sengodjo (nama sebenarnya adalah Suripman) lahir di Desa Gatak, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada tanggal 25 November 1926.
- Dalam dunia sastra, Suripman suka menggunakan nama samaran. Kalau menulis puisi atau sajak, ia menggunakan nama kakeknya, yaitu Prawiro Sengodjo (kemudian disingkat menjadi P. Sengodjo). Kalau menulis esai atau prosa, ia menggunakan nama aslinya, yaitu Suripman. Kalau menulis cerpen, ia juga sering menggunakan nama aslinya Suripman, tapi kadang-kadang menggunakan nama samaran Sengkuni (nama tokoh pewayangan).
